Kala Kimigayo dan Indonesia Raya Berkumandang

Jujur, saya malah merasa darah nasionalis saya bergejolak saat berada di luar negeri. Dan ini adalah salah satu momen di mana saya benar-benar merinding saat menyanyikan Indonesia Raya.

Namanya Fujitani Emi.

Penampilannya jauh dengan cewek-cewek Tokyo yang pakai rok mini meskipun suhu satu digit, dandan ala kekinian, dan pakai baju musim dingin nan modis. Fujitani tampil sederhana, polos, mirip kutu buku.

Pertemuan saya dengan Fujitani-san terbilang unik dan tak disangka-sangka. Jadi ceritanya, setelah kebingungan mencari tram untuk menuju ke Hiroshima Dome, seorang kakek berbaik hari mengantarkan saya ke halte tram. Si kakek ini benar-benar memastikan saya naik tram yang benar, sampai-sampai berpesan ke seluruh penumpang kalau ‘Ini anak jangan lupa diingetin kalau udah nyampe Hiroshima Dome!’.

Saat itu, cewek bermasker di sebelah saya mengangguk alias menyanggupi permintaan si kakek. Dalam bahasa Jepang, dia bilang kalau dia juga mau ke sana. Jadi saya diminta turun bareng dia.

Oh oke deh, pikir saya. Setelah turun dan mengucapkan terima kasih, ternyata dia nggak bergegas ninggalin saya. Dia malah bilang, “Saya akan temani kamu berkeliling Dome.”

“Lah ga usah,” saya menyahut. Dia melingkar jari telunjuk dan jembol lalu berkata, “Daijoubu.”

DSC_0343
Di dalam tram menuju Hiroshima Dome

Singkat kata, seharian itu Fujitani menemani saya berkeliling Hiroshima. Layaknya tour guide, dia rajin bertanya sudah lapar belum, pengen makan apa, mau ke mana lagi? Setiap saya bertanya tentang Hiroshima, dia selalu berusaha menjelaskan sampai saya benar-benar mengerti.

Lucunya, skill bahasa Jepang saya basic banget. Sedangkan Fujitani sama sekali tidak bisa bahasa Inggris bahkan untuk kata-kata sederhana sekalipun! Tiap kali dia nyerocos dalam bahasa Jepang, saya menimpali dengan bahasa Inggris. Kalau belum paham juga, giliran tangan bergerak-gerak membuat bahasa tubuh. Kalau masih melongo juga, smartphone dengan aplikasi Google Translate pun dikeluarkan. Barulah Fujitani ber-oh panjang.

Setelah putar-putar Dome dan Shukkeien garden sampai sore, kami pun berpisah. Ini pun setelah Fujitani bertanya berkali-kali apakah nggak apa-apa kalau dia pulang dan saya ke stasiun Hiroshima sendirian. Tepat pukul lima sore, saya pun dijemput host Couchsurfing, Otake Tomokazu dan langsung meluncur ke rumahnya.

Besoknya saya ditinggal Kazu di stasiun Hiroshima karena dia harus kerja. Singkat kata, saya pun ke Miyajima seharian sesuai rencana awal. Balik ke Hiroshima sudah malam dan perut saya lapar berat. Niatnya sih mengontak Kazu, tapi langsung ingat kalau dia ada meeting dengan klien sampai larut malam.

Sambil nggak ngarep apapun, saya pun iseng nge-LINE Fujitani dan rupanya langsung dibalas instan! Saya yang cuma bertanya di mana Yoshinoya malah ditawari di antar ke sana. Langsung saja saya buru-buru naik tram menuju stasiun Hiroshima di mana Fujitani yang baru pulang kerja menunggu.

Ternyata Yohinoya lumayan jauh dan harus ditempuh jalan kaki karena tidak dilalui jalur tram. Pulangnya pun lewat jalan yang sama alias harus jalan kaki lagi sampai gempor.

Di tengah-tengah perjalanan itulah saya iseng bertanya, “Could you sing Kimigayo for me?”

“Kimigayo?”

“Ha-i.”

Tanpa ba-bi-bu, Fujitani langung menyanyikan bait-bait Kimigayo dengan mimik serius. Saya yang baru pertama kali mendengar Kimigayo dinyanyikan secara live oleh orang Jepang asli sukses dibuat takjub.

Dan makin kaget pas Fujitani bilang, “Giliran kamu.”

Saya menelan ludah. Beneran nih mau dengerin saya nyanyi? Lagu kebangsaan Indonesia panjang loh, suara saya juga pas-pasan. Tapi dia malah nyengir. Karena nggak mau kalah gengsi, akhirnya saya nyanyi juga.

Satu-dua bait pertama, saya masih sedikit cengengesan karena sadar betapa ancurnya suara saya karena ngos-ngosan jalan jauh sambil menahan suhu dingin. Tapi di bait-bait selanjutnya, saya mulai menyanyi pelan, syahdu dan menghayati setiap lirik yang keluar dari bibir.

“Indonesia raya, merdeka merdeka…”

Kemudian suara saya mulai bergetar karena sebuah pikiran terlintas. Gadis di sebelah saya, yang selama dua hari ini berbaik hati menemani saya tanpa meminta imbalan apapun, mungkin nggak tahu kalau dulu kakek atau buyutnya pernah menjajah negeri bernama Indonesia dengan kejamnya.

Jangankan menyanyikan Indonesia raya, untuk mengibarkan merah putih saja harus dengan pertumpahan darah. Dulu buyut-buyut kami saling menodongkan senjata. Sekarang cicit-cicit mereka saling berangkulan di tengah dinginnya Hiroshima. Kota yang dibom oleh sekutu demi menandai berakhirnya perang dunia pada 1945. Karenanya pejuang-pejuang Indonesia terdorong memproklamirkan kemerdekaan.

“Hiduplah Indonesia raya…” saya mengakhiri bait terakhir dengan syahdu dan disambut tepuk tangan meriah oleh Fujitani. Dengan gerakan tangan, dia berkomentar kalau Indonesia bernada naik turun dan bagus sekali.

Saya tersenyum. Mendadak dinginnya Hiroshima jadi tidak terasa.

Malam itu jam 10 malam, Fujitani mengantarkan saya ke stasiun Hiroshima. Saya akan bertolak ke Kyoto. Kami berpelukan haru. Ada banyak kata-kata yang ingin saya sampaikan tapi semuanya seperti tersangkut di tenggorokan.

Meski hanya dua hari, Hiroshima membuat saya emosional. Mendadak saya jadi kangen sekali dengan tanah air.

2016-08-20-22-31-36
Fujitani Emi dan saya (yang sengaja diblur) berfoto di Shukkeien garden

 

 

:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *