Tragedi Ketinggalan Pesawat Part 1

Ternyata saya benar-benar ‘membuang’ 300.000 won ke tempat sampah.

Kejadian paling horor buat seorang traveler menurut saya adalah saat ketinggalan pesawat. Saya pernah mengalaminya dua kali. Yang pertama, terjadi ketika saya akan ke Korea setelah internship di AIESEC Dalian RRC selesai.

Pagi itu jadi momen perpisahan yang benar-benar sedih. Setelah dua bulan di Tiongkok, saya harus pergi meninggalkan teman-teman AIESEC dan mungkin kami nggak akan pernah bertemu lagi. Kami berpelukan erat sambil berjanji akan terus keep contact.

Sambil dadah-dadah, saya melenggang ke konter check in. Masih ada satu jam sampai konter check in ditutup, tapi anehnya kok nggak ada papan digital yang bertuliskan penerbangan ke Seoul menggunakan China Southern Airlines. Saya berusaha positive thinking. Mungkin konter check in nya belum dibuka karena masih pagi. Sambil menunggu, saya mengisi kartu imigrasi.

Ternyata sampai 30 menit sebelum take off, konter check in yang ada tulisan Dalian-Seoul belum kunjung dibuka.  Saya mulai panik. Nggak mungkin kan saya salah booking tanggal tiket pesawat. Barulah sampai 20 menit sebelum take off, saya ngider buat nyari-nyari.

Ternyata konter check in yang saya cari ada di meja paling ujung!  Ada 10 konter check in yang berada di sekat lain alias terhalang tembok. Lah, mana saya tahu. Tapi bodohnya saya memang nggak nanya-nanya dan lebih milih nunggu dengan sotoynya.

Saya langsung lari belingsatan ke ujung. Sambil ngos-ngosan, saya menyodorkan tiket. Si embak-embak penjaga konter kelihatan bingung, tapi doi langsung gerak cepat. Dia kelihatan menelepon entah siapa, nyerocos dalam bahasa Mandirin, mengangguk-angguk, lalu menutup telepon untuk membawa kabar buruk.

 “Sorry you’re not allowed to fly.”

Jeder! Saya langsung lemas.

“Tapi kan take off-nya masih 15 menit lagi!” Saya melas tapi tetep maksa.

Si embak-embak mengangkat telepon lagi, berbicara dengan entah siapa, lalu menggantung gagang telepon dan bilang, “Kamu bisa ikut asal nggak bawa koper.”

Yaaaah gimana dong? Masa koper penuh oleh-oleh ini nggak ditinggalin gitu aja T.T. Rupanya saya masih bisa melenggang ke imigrasi, tapi koper saya tidak bisa diangkut karena bagasi pesawat sudah keburu ditutup. Saya nego lagi supaya koper saya bisa ditaruh di dapur pesawat kek gitu, tapi malah dimarahin karena menyalahi prosedur.

Tapi kemudian si embak mengabarkan secercah harapan. “You can join the next flight. Pergi aja ke konter yang di sana, nanti dia yang bakal mengatur jadwal penerbangan kamu.”

Horeeeee. Saya nggak jadi lemes.

Tapi dasar awam, jelaslah saya langsung disemprot.”You bought non-refundable ticket. Sorry.” Yaiyalah wong saya beli tiket paling murah. T.T

Saya pun bertanya berapa harga tiket ke Seoul untuk nanti siang. Ternyata dalam rupiah sampai Rp3 juta. Glek, mahal betul. Tapi daripada saya nggak bisa pulang, karena saya sudah terlanjur beli tiket Seoul-KL-Jakarta untuk tanggal 14 Maret. Teringat dibekali kartu kredit oleh ibu saya di tanah air, saya pun dengan pedenya minta dipesankan ke si mbak-mbak.

Your passport,” pinta si mbak jutek.

Tapi ketika saya menggesek, “declined.”

Ya Allah, cobaan  apa lagi iniiiii. Dengan lunglai dan panik, saya langsung mengontak teman-teman AIESEC dimulai dengan kalimat, “I have really bad news for you guys. And I need you going back to the airport right now.”

Untungnya mereka langsung gerak cepat. Ternyata tiket saya yang hangus itu bisa diuangkan tax and service-nya. Mereka juga sudah menemukan penerbangan lain ke Seoul. Hanya saja jadwalnya besok pagi dan transit di Beijing. Ini artinya, saya harus menginap semalam di bandara.

Saya pun terpaksa merelakan 150.000 won untuk membayar sisa tiket pesawat. Tapi kok pas ngubek-ngubek tas nggak ada? Tadi amplop cokelat yang isinya duit Won memang sempat saya keluarkan pas saya panik. Teman saya bantu membongkar tas dan hasilnya nihil. Mereka bahkan sampai menyusuri jalanan yang tadi saya lewati, takut-takutnya nggak sengaja jatuh.

Saya udah mau nangis beneran. Kebayang muka ibu saya yang sedih karena saya gak bisa pulang karena kehabisan duit.

Kemudian saya ingat sesuatu. Waktu lagi panik tadi saya memang menaruh tas saya di tempat sampah, tapi masa sih amplop cokelat yang isinya uang sampai kebuang? Saat itu kebetulan ada petugas kebersihan yang mau angkut sampah. Saya langsung bergegas ke tong sampah dan melirik isinya.

Daaaaaan ternyata amplop cokelat saya memang ada di dalam tong sampah! Astagfirullah.

Gila banget kalau sampai diangkut sama petugas kebersihan tadi.

Lega, saya langsung menyerahkan uang tersebut untuk dibelikan tiket penerbangan Dalian-Seoul selanjutnya. Sayang, ternyata hanya ada penebangan tengah malam dan itu pun saya harus menginap di bandara Beijing semalaman karena rutenya Dalian-Beijing-Seoul.

Ya sudah lah nggak apa-apa. Masalahnya saya harus ke Seoul bagaimanapun juga karena saya kepalang memegang tiket Seoul-Jakarta untuk tanggal 14 Maret nanti.

Tampaknya Allah memang ingin saya ke Beijing dulu. Ibarat ke Jepang tanpa ke Tokyo, nggak sah rasanya kalau RRC tanpa ke Beijing!

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *