[Review Hostel] Pinisi Backpacker Hostel Bandung

Saya udah berbelas kali nginep di hostel luar negeri dan ini pertama kalinya nginep di hostel Indonesia.

Istilah hostel kayaknya masih asing ya kita temuin di kota-kota Indonesia. Hotel dan guest house lebih populer di sini dibandingkan hostel atau Bed and breakfast. Perbedaan hotel dan hostel kayaknya nggak perlu dijelasin lagi.

Tapi buat yang belum tahu, hostel adalah penginapan murah meriah di mana ada kamar dorm (asrama). Di hostel, satu kamar ditempati ramai-ramai dengan para traveler lain. Jadi biaya yang dibayarkan adalah per orang/kasur bukan per kamar.

Jadi nggak ada privasi dong? Emang. Tapi beberapa hostel punya fasilitas gorden di kasur tingkat mereka. Kamar pun dibedakan menjadi female dorm, men dorm, atau mix dorm. Meskipun ada juga hostel yang hanya menerima tamu cewek atau hanya punya mix dorm saja.

Sebenarnya saya pengen sih ngereview semua hostel-hostel yang pernah saya tempatin. Tapi lagi ngumpulin foto-fotonya dulu di folder buluk dari tahun 2012 (baca: lagi males nyari). Jadi reviewnya dimulai aja dari hostel yang terakhir saya inapi di Bandung bulan Oktober 2016.

Lah, sejak kapan ada hostel di Bandung?

Eit, jangan salah. Rupanya hostel makin menjamur seiring dengan makin banyaknya backpacker asing yang datang ke Indonesia. Hostel yang saya inapi adalah Pinisi Backpacker Hostel yang hanya berjarak lima menit dari stasiun Bandung.

Jpeg
Penampakan Pinisi Backpacker Hostel dari depan
Jpeg
Hostel yang ‘rumahan’ banget

Setelah ngobrol sama teteh-teteh pengurusnya (foto di atas), ternyata Pinisi Backpacker Hostel asalnya adalah sebuah rumah yang disulap jadi hostel dan baru berdiri beberapa bulan. Selain tinggal ngesot dari stasiun, di sekitar sini juga gampang cari makanan. Mulai dari tukang nasi goreng, wedang jahe, pecel, dan lain-lain. Pas di depan gang hostel ada Alfamart. Pegal habis jalan-jalan? Tinggal ngesot sedikit dan nemu family massage yang harga per jamnya lumayan murah.

Jpeg
Peta cara menuju Pinisi Backpacker di dinding hostel

Tarif per malamnya cukup terjangkau, meskipun terbilang mahal kalau dibandingkan dengan hostel-hostel di Thailand. Saya sendiri membayar Rp100.000 untuk female dorm dan Rp70.000 untuk mix dorm via Agoda. Sedangkan harga asli per orang adalah Rp120.000 untuk female dorm dan Rp100.000 untuk mix dorm. Total ada lima kamar dengan jumlah bunk bed per kamar dua sampai tiga ranjang. Kamar mandi ada tiga, satu di bawah dan dua di atas.

Jpeg
Female dorm yang dijajah oleh saya sendirian

Kesan pertama saya setelah menginap di sini adalah hostel  ini homey banget. Lantai di bagian bawah masih bercorak jadul sehingga mengingatkan saya pada rumah nenek di Sukabumi. Kamarnya bersih dan rapi. Meskipun di kamar saya saat itu sedikit bocor karena hujan deras banget. Tapi ketika saya mengadukan soal ini, akang-akang staffnya sangat responsif dan langsung membenahi kebocoran.

Asyiknya lagi waktu itu hanya saya sendirian di kamar female dorm. Karena cuma female dorm yang punya kamar mandi di dalam, kamar mandinya saya kuasai penuh. Huehehehe.

Pagi-paginya saya ditawari sarapan oleh teteh staf berupa roti+telur atau roti+selai. Tarif hostel memang sudah termasuk sarapan. Seperti hostel lainnya, teh dan kopi tersedia gratis.

Jpeg
Sarapan roti dan selai bikinan si Teteh

Untuk wisatawan yang mau jalan-jalan ke Lembang, Ciwidey, Kawah Putih, Hutan Juanda, dan tempat wisata lainnya, Pinisi Backpaker Hostel juga menyediakan paket tur berupa guide dan transportasi. Menurut saya sih harganya cukup wajar mengingat transportasi ke tempat-tempat wisata di Bandung jarang ada yang langsung dan ribet.

So, ini kesimpulan saya.

Pros:

  • Homey
  • Lokasi sangat dekat dengan stasiun kereta. Biasanya turis asing yang menginap di sini lanjut ke Yogyakarta naik kereta
  • Kamar mandi bersih dan disediakan sabun serta shampo
  • Dapat sarapan
  • Akang-teteh staf sangat baik. Saya ngerusakin gembok loker dan alhasil loker jadi terkunci. Pagi-pagi si Akang langsung bantu saya ngebongkar loker. Kalau di luar negeri mungkin saya sudah kena denda
  • Wifi kencang
  • Punya paket tur ke tempat-tempat wisata di sekitaran Bandung

Conts:

  • Pas saya nginep kamarnya bocor 🙁
  • Saya nggak merasa hawa traveling. Ternyata karena beberapa tamunya orang Indonesia yang menginap di hostel karena besok paginya ada wawancara kerja di Bandung. Jadi mereka nginep di hostel supaya murah. Kebayang kan setelan saya ransel+kaos, sedangkan pagi-pagi mereka berkemeja putih+dasi
  • Air panas di lantai atas nggak nyala
  • Nggak ada gorden di bunk bed.

Ada yang punya pengalaman menginap di sini? Share ya.

5 thoughts on “[Review Hostel] Pinisi Backpacker Hostel Bandung

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *