Pengalaman Menyewa Kimono di Yumeyakata Kyoto Jepang

Tertarik berkeliling Kyoto sambil mengenakan kimono ala warga lokal?

Tumbuh besar dengan Samurai X, sejak kecil saya berandai-andai ingin memakai kimono suatu hari nanti. Waktu SMA, guru bahasa Jepang saya pernah membawakan kimono. Tapi bentuknya lebih mirip kimono mandi yang cara pakainya pun simpel banget. Belakangan, saya tahu kalau namanya yukata.

Waktu pertama kali ke Kyoto tahun 2015, saya dibuat takjub dengan pemandangan orang berkimono dan berhakama di mana-mana. Beberapa memang orang asli Jepang (warga lokal/warlok), tapi lebih banyak lagi yang merupakan turis. Waktu itu saya nggak kepikiran nyewa kimono karena saya pikir pasti mahal.

Kimono
Pemandangan di Kyoto yang penuh dengan orang berkimono. Source: giphy

Kunjungan kedua kalinya ke Jepang dua tahun kemudian dilakukan bersama ibu, kakak, dan pasangan. Jadinya gaya traveling pun disesuaikan. Untung pengeluaran, kali ini pun saya nggak irit-irit banget, dan malah diuntungkan dalam beberapa hal karena bisa patungan dan dapat diskon. Termasuk untuk menyewa kimono dan menggunakan jasa fotografer di Yumeyakata Kyoto.

Saya nggak mau menyia-nyiakan kesempatan untuk berjalan-jalan ala warlok sambil mengenakan kimono. Sebelum berangkat saya googling rental kimono yang bagus dengan harga terjangkau.  Dari sekian banyak rental penyewaan kimono di Kyoto, saya memilih Yumeyakata.

Alasannya karena Yumeyakata ini paling ramah turis. Situsnya mudah dimengerti karena tersedia dalam berbagai bahasa, termasuk bahasa Indonesia juga loh! Stafnya bisa berbahasa inggris, dan bahkan tersedia penerjemah bahasa lainnya seperti Thailand dan Mandarin. Lokasinya juga mudah diakses karena dekat dengan stasiun kereta dan halte bus.

Yang paling penting buat saya sih koleksi kimononya yang cantik-cantik! Koleksinya sangat banyak dan variatif. Dijamin bingung milihnya karena pengen coba semua 😂.

Reservasi dilakukan lewat online dan sangat mudah dilakukan. Saya diminta mengisi tanggal penyewaan, plan yang diambil, metode pembayaran (kartu kredit atau bayar di tempat), beserta data diri lainnya.

Petunjuk mengenai reservasi tersedia dalam bahasa Indonesia di sini. Setelah memahami alurnya, reservasi bisa dilakukan di link ini.

Harga rental kimono per orang adalah ¥3.500. Sedangkan karena saya mengambil couple plan, harganya jadi ¥6.500 untuk berdua. Ada berbagai plan di Yumeyakata yang bisa disesuaikan dengan bujet, selengkapnya bisa dilihat di sini.

Nah, karena saya juga mengambil paket pemotretan, saya diharuskan membayar DP sebesar 20% lewat kartu kredit, dan sisanya dibayar di hari H. Yumeyakata menyediakan berbagai harga paket foto dan lokasi. Saya sendiri memilih lokasi Gion dengan biaya ¥22.000 (belum termasuk pajak konsumsi) dibagi empat orang.

Proses pembayaran dilakukan setelah menerima email konfirmasi, lalu mendapat link pembayaran yang dikirim oleh staf Yumeyakata. Tiga hari sebelum hari penyewaan, saya juga mendapat email reminder dari staf.

Email Yumeyakata 2

Ada biaya tambahan kalau kita booking untuk datang sebelum jam 10, yaitu ¥1.000. Biaya yang sama diberlakukan kalau sekiranya ingin memilih nama fotografer. Tapi saya sih bebas mau difoto sama siapa pun juga, karena portofolio semua fotografer Yumeyakata bagus-bagus kok.

Ketika saya dan keluarga tiba di Yumeyakata, rupanya sudah banyak orang yang datang. Meskipun sedikit penuh, namun kami dilayani dengan cepat dan baik. Staf yang mendampingi kami, bahasa inggrisnya terbatas dan patah-patah, tapi masih bisa dimengerti. Kami pun di antar ke ruangan display kimono, di mana bagian laki-laki dan perempuan terpisah.

Benar aja, ada banyaaaaak banget kimono yang tersedia. Rak kimono dibagi berdasarkan panjang kain, jadi cara memilihnya disesuaikan dengan tinggi badan.  Kalau sudah mulai kebingungan memadupadankan kain, serahkan saja pada staf untuk dipilihkan yang terbaik. Karena meskipun saya sudah naksir dengan satu model kimono di akun Instagram Yumeyakata, saat eksekusi ternyata ada banyak pilihan lain yang nggak kalah cantik, dan saya pun goyah 😂.

Rental Kimono Yumeyakata - ranselriri
Semua kimononya cantik-cantik!
Rental kimono Yumeyakata Kyoto - ranselriri
Staf Yumeyakata membantu saya memilih obi, obiage, dan tali obi. Riweuh sekali karena dia harus nangani empat orang di grup saya hehehe.

Selesai memilih kimono, kami diharuskan memilih obi, lalu tas, aksesoris, syal (karena saat itu musim dingin), dan terakhir sandal (getta). Tersedia juga jasa tata rambut dan make up dengan biaya tambahan. Tapi saya sih dandan sendiri aja 😀. Namun karena saya ingin ‘upgrade‘ obi dengan bentuk lebih klasik, yang disebut dengan otaiko style, saya dikenakan biaya tambahan ¥1.000.

Selain paketan tersebut, setiap penyewa mendapat kaos kaki (tabi) yang bisa dibawa pulang GRATIS!

Menyewa Kimono di Yumeyakata Kyoto - ranselriri
Display sandal (getta). Hampir semua modelnya sama, jadi langsung pilih aja yang sesuai ukuran.

Proses pemakaian kimono sendiri berlangsung cepat. Awalnya saya mengira ada ada 3-4 lapis kain yang dipakaikan, tapi ternyata lebih dari 6 kalau tidak salah. Mungkin karena saat itu bulan Febuari dan suhu bisa satu digit. Setelah pakai berlapis-lapis pun ternyata masih berasa kedinginan sodara-sodara 😂. Saat memakai kimono tidak disarakan memakai bra ya, karena pasti akan sesak. Tapi kalau menyewanya di musim dingin seperti saya, boleh kok pakai longjohn (plus tambahan heatpack biar tetap hangat).

Akhirnya, motif kimono ini yang saya pilih:

Pengalaman Menyewa Kimono di Yumeyakata Kyoto Jepang - ranselririYumeyakata kimono rental review - ranselriri

Sudah rapi dan cantik, kami diarahkan menuju lokasi foto yang dipilih, yaitu Gion. Saya memilih Gion karena karena lokasi ini kental dengan suasana Kyoto tempo dulu.

Ternyata meski membayar jasa untuk satu fotografer, kami mendapat dua fotografer plus satu penerjemah bahasa Inggris. Fotografer saya bernama Yutaka Obata dan Asano, kayaknya sih mereka ayah dan anak deh.

Nah, ini hasil foto-fotonya beserta detail kimono saya. Cantik kan kimononya?

Pengalaman Menyewa Kimono di Yumeyakata Kyoto Jepang - ranselriri

Rupanya Gion yang jadi lokasi foto Yumeyakata bukanlah Gion mainstream yang penuh dengan turis. Justru lokasinya sepiiii sehingga nggak bikin kami canggung karena jadi tontonan orang. Padahal lokasinya di Tatsumi bridge yang membelah sungai Shirakawa. Sesi foto dimulai di depan Tatsumi shrine.

Kimono Yumeyakata Kyoto sewa - ranselriri
Tim fotografer membawakan properti tambahan berupa payung.
Yumeyakata kimono rental 4 - ranselriri
Foto bersama mama.

Rental kimono yumeyakata kyoto - ranselririYumeyakata kimono rental review 3 - ranselririPengalaman Menyewa Kimono di Yumeyakata Kyoto Jepang - ranselriri

Sepanjang jalan Gion dipenuhi deretan rumah-rumah tradisional Jepang tempo dulu. Distrik Gion sejak dahulu terkenal sebagai pusat geisha. Geisha adalah sebutan bagi wanita Jepang yang telah mendapat pendidikan khusus untuk membawakan kesenian tradisional Jepang seperti membaca sajak dan memainkan alat musik. Biasanya pendidikan ini dimulai sejak mereka kecil. Sebelum resmi menjadi gesiha, mereka disebut maiko (geisha magang). Kalau mau kepo cara membedakan geisha dan maiko bisa baca di sini.

yumeyakata review

Kebetulan saat sesi foto berlangsung, kami berpapasan dengan seorang maiko lengkap dengan kimono klasik, wajah bercat putih, dan sanggul era zaman Edo. Fotografer kami menghentikan kegiatan lalu memberi hormat pada maiko tersebut. Oh iya, kalau betemu geisha/maiko jangan memotret tanpa seizin mereka ya. Diri sendiri pun pasti risih kan kalau tiba-tiba ada orang asing yang menghadang terus jeprat-jepret.

Hakama Yumeyakata - ranselriri0317_original (2)

Selama memakai kimono saya juga bolak-balik naik bus dan kereta bawah tanah. Ribetkah? Ribet sih ngga. Cuma jalannya harus agak pelan-pelan, secara ya kimono itu kan bentuknya span. Pakai kimono ini turut memengaruhi cara jalan yang grasak-grusuk (kaya saya) jadi lebih anggun.

Yang ribet justru pas pipis! Susah loh cari posisi jongkok sambil ngangkat kimono. Apalagi saat itu musim dingin, dalaman kimono saya berlapis-lapis~ Kebayang gak sih gimana ribetnya cewek-cewek Jepang zaman dulu kalau ke toilet 😂. Salut deh sama mereka.

Kalau soal rapi sih sampai malam pun tetap rapi. Secara kimono ini cukup kencang membungkus badan.

yumeyakata review

Kimono di Yumeyakata harus dikembalikan maksimal jam 7.30 malam. Kalau mau mengembalikan keesokan harinya pun boleh, hanya saja dikenakan biaya ekstra ¥1.000. Jangan lupa dibalikin ya, jangan malah dibawa pulang 😏.

Oh iya hasil foto bisa diunduh secara gratis. Nanti dikasih link dan passwordnya lewat email. Kalau mau dimasukin ke flashdisk juga bisa, but again ada biaya tambahan.

Bagi kamu yang akan ke Kyoto, saya saranin sih menjajal pengalaman ini. Kapan lagi coba merasakan sensasi ala warga lokal  dalam balutan  kimono. Kalau dikasih kesempatan lagi malah saya pengen nyobain pakai hakama atau furisode (kimono yang lebih klasik lagi). Semoga tercapai suatu hari nanti 😊.

Rental Kimono Yumeyakata Kyoto Jepang

Umeto building 128, Manjuji-cho, Shimogyo-ku Kyoto-shi

Akses:

  • Dari stasiun Kyoto
    Naik subway line Karasuma, turun di stasiun Gojo. Ambil exit 1, lalu jalan kaki 3 menit ke arah timur.
  • Bus
    Turun di halte Gojo Karasuma (No.5/26/80/101)
  • Keihan Railway
    Naik kereta Keihan ke stasiun Kiyomizu Gojo Station, lalu jalan kaki 8 menit dari exit 3.
  • Or just simply open your google map… 😀

Selain Yumeyakata, rental kimono lain yang saya tahu adalah Kyoto Kimono Rental Wargo dan Irodori Kyoto.

(Baca juga: Rekomendasi Penginapan Murah di Jepang: Tokyo, Kyoto, Osaka, dan Takayama)

Jika ada pertanyaan mengenai Yumeyakata silakan tinggalkan pesan di kolom komentar yaa.

One thought on “Pengalaman Menyewa Kimono di Yumeyakata Kyoto Jepang

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *