Panduan Memulai Investasi Saham dan Reksadana untuk Pemula (Khususnya Emak-emak) Part 1

Panduan Memulai Investasi Deposito, Saham, dan Reksadana untuk Pemula (Khususnya Emak-emak) - ranselriri

Berhubung banyak yang nanya ke saya via Instagram tentang reksadana, saham, dan instrumen investasi lainnya, kayaknya saya merasa perlu menulis topik investasi khususnya bagi pemula. Nggak akan berat-berat kok, karena saya juga pemula ๐Ÿ˜†. Penjelasan dibuat sesederhana mungkin supaya lebih mudah dipahami.

Oh iya, fyi saya bukan sarjana ekonomi, bisnis, akuntasi atau jurusan yang berhubungan dengan duit lainnya. Oleh karenanya jika ada penjelasan saya yang keliru, mohon diluruskan dan dicerahkan. Anggap saja saya emak-emak awam yang ingin mengajak emak-emak awam lainnya untuk mulai berinvestasi.

Oke, pertama-tama, apa sih investasi itu?

Orang biasanya kalau denger istilah investasi langsung berkerut keningnya. Tenang, investasi nggak serumit itu kok. Jangan alergi dulu karena semuanya mudah dipelajari. Investasi berkaitan dengan duit dan siapa sih yang nggak suka duit ๐Ÿ˜€. Kita juga nggak harus setajir Sandiaga Uno untuk mulai investasi.ย 

Buat saya, investasi adalah menabung, dan semakin lama tabungan ini semakin tumbuh dan menguntungkan. Berdasarkan asetnya, investasi terbagi dua menjadi real asset dan financial asset. Real asset diartikan sebagai investasi yang ada wujudnya seperti tanah dan properti. Nah kalau saham, reksadana, dan deposito termasuk ke dalam kategori yang kedua.

Terus kenapa pilih financial asset, bukan real asset yang ada wujudnya?

Ih kata siapa? Emangnya duit nggak ada wujudnya?

Ya sesimpel karena saya belum mampu beli tanah atau properti hanya perlu mengeluarkan modal sedikit untuk memulai berinvestasi saham, reksadana, atau deposito. Kedua produk ini bahkan bisa dimiliki mulai dari Rp50.000 saja loh. Kalau untuk deposito, bisa dimiliki mulai dari Rp2 juta saja setahu saya. Untuk lebih jelasnya, cek bank tempat kamu menabung ya.

Fun fact: Mobil itu bukan investasi, karena akan mengalami depresiasi (penyusutan harga) alias makin lama harganya makin turun. Belum lagi biaya untuk perawatan, suku cadang, dan asuransi. Berdasarkan pemahaman dan informasi yang saya dapatkan dari Jouska, properti pun bisa keluar dari jalur investasi karena kita diharuskan untuk keluar biaya pemeliharaan, keamanan, dll (kalau kondisinya kamu beli rumah tersebut dan dibiarin gitu aja karena nggak ada orang yang mau beli).

Emangnya nggak cukup hanya dengan tabungan aja?

Sis, coba deh hitung berapa biaya administrasi yang kamu keluarkan setiap bulannya. Contohnya aja saya punya tiga rekening. BCA, Mandiri, dan BNI Syariah. BCA dan Mandiri membebani Rp15.000 setiap bulannya, sedangkan BNI Syariah nggak. Ini artinya dalam setahun saja, rekening saya udah bocor Rp360.000. Sedangkan di reksadana atau saham, uang saya bisa tumbuh.

Oke, terus apa bedanya reksadana, saham, dan deposito?

Nah ini agak panjang nih. Saya bahas satu-satu ya.

Deposito

Deposito adalah produk penyimpanan uang di bank dengan sistem penyetoran. Bedanya dengan rekening biasa, deposito hanya bisa diambil pada jangka waktu tertentu.

Simpelnya, kalau punya rekening biasa, dengan kartu ATM kamu bisa narik duit kapan aja. Tapi kalau punya deposito, duit kamu cuma bisa diambil sesuai waktu yang ditentukan saat membuka deposito. Bisa itu 1 tahun, 3 tahun, dan seterusnya.

Ada bank yang memperbolehkan diambil sebelum waktunya. Tapi biasanya bank akan memberlakukan denda karena sikapmu yang tak bisa menepati janji ini. Tsah.

Untuk investor pemula, saran saya coba buka deposito. Alasannya karena aman dan sangat mudah. Prosesnya tinggal datang ke CS bank, setor duit, terima bilyet deposito, dan pulang. Jangan lupa simpan baik-baik bilyetnya di tempat aman.

Misalnya nih ya, kamu punya uang nganggur Rp25 juta. Dengan uang segini, mari kita bandingkan uang yang hanya dianggurin di rekening dengan uang yang dijadikan deposito (estimasi keuntungan 4% per tahun).

Rekening biasa
Biaya administrasi: 15.000/bulan atau Rp180.000 per tahun
Dalam 6 tahun: Akumulasi potongan Rp1.080.000
Saldo setelah 6 tahun: Rp25.000.000 โ€“ Rp1.080.000 = Rp24.820.000

Ituuuu kalau emang duitnya nggak diapa-apain. Nggak tergoda untuk dipakai beli tiket pesawat, booking hotel, kulineran, beli baju baru, dll. Nah sekarang kita bandingin dengan deposito.

Deposito
Bunga atau bagi hasil: 4%/tahun atau Rp1.000.000/tahun (perhitungannya dari 4% x Rp25juta)
Dalam 6 tahun: 6 x Rp1.000.000 = Rp6.000.000
Saldo setelah 6 tahun = Rp25.000.000 + Rp6.000.000 = Rp31.000.000

Source: giphy

Memang sih ada potongan pajak dan lainnya. Tapi ya tetap menguntungkan kalau dijadikan deposito kan?

Nggak mau bunga? Ya udah ke bank syariah aja Sis yang pakai sistem bagi hasil. Deposito saya juga di bank syariah kok ๐Ÿ™‚.ย Nah sekarang, yuk beranjak ke reksadana.

Reksadana

Simpelnya kamu punya duit, lalu kamu ingin investasikan, tapi kamu bingung. Dalam reksadana, ada yang namanya Manajer Investasi (MI) yang akan mengelola uang kamu. Uang tersebut akan dialokasikan ke saham, obligasi, atau pasar uang tergantung si MI atau jenis produk reksadana itu sendiri.

Pusing?

Biar nggak pusing, mari kita langsung kenalan dengan jenis-jenis reksadana lewat tabel berikut. Untuk penjelasan apa itu obligasi, pasar uang, dan istilah yang belum dimengerti silakan googling sendiri ya ๐Ÿ˜Š.

Jenis Reksadana

Istilah Kerennya Komposisi

Risiko

Reksadana Pasar Uang

Money market fund Deposito, obligasi, Sertifikat Bank Indonesia (SBI) dengan sekurang-kurangnya 100% pasar uang Rendah
Reksadana Pendapatan Tetap Fixed income Sekurang-kurangnya 80% obligasi dan deposito Rendah, tapi lebih tinggi dari pasar uang
Reksadana Campuran Balance Fund Saham, obligasi, deposito, pokoknya campur-campur Sedang/moderat
Reksadana Saham Equity fund Sekurang-kurangnya 80% saham dan biasanya terdiri dari beberapa saham perusahaan

Tinggi

Studi kasus 1:

Mpok Aminah pengen investasi reksadana, tapi pengennya yang aman dan past-pasti aja. Maka dari itu Mpok Aminah memilih reksadana pasar uang karena risikonya paling rendah. Setelah mempelajari profil Manajemen Investasi (MI), akhirnya Mpok Aminah menjatuhkan pilihan pada MI Bahana Likuid Syariah. Habisnya, grafik si MI ini positif terus, meski ya keuntungannya nggak banyak-banyak amat.

Panduan Memulai Investasi Deposito, Saham, dan Reksadana untuk Pemula (Khususnya Emak-emak) Part 1 - ranselriri

Modal yang dikeluarkan Mpok Minah cukup Rp100.000 aja, tapi dia bertekad bakal rutin nyetor tiap bulan.

See? Investasi reksadana bisa dimulai dengan modal minimal saja. Dari kasus di atas Mpok Aminah bisa memulainya dengan Rp100.000 karena MI pilihannya mengharuskan nominal demikian setiap kali subscribe.

Studi kasus 2:

Ceritanya Mpok Aminah udah mulai ngerti tentang reksadana dan berniat lebih naik level lagi. Si Mpok pun memberanikan diri untuk untuk nyemplung di reksadana saham. Kali ini dia percayain kepada Megah Perkasa Fund.

Karena yang dipilih adalah reksadana saham, mpok Aminah dikasih tahu kalau nantinya duitnya bakal dibeliin ke saham BRI, BCA, Telkom, dan Sampoerna oleh sang Manager Investasi. Jadi kalau salah satu harga saham tersebut turun, Mpok Aminah nggak selalu rugi, karena bisa aja saham yang lain naik. Beda halnya dengan membeli saham tunggal.

Misalnya kalau Mpok Aminah beli saham BCA, di saat turun ya dia akan rugi. Tapi dengan membeli reksadana saham yang terdiri dari beberapa saham, duit Mpok Aminah terlindungi dari kemungkinan ini.

Saham

Saham alias surat berharga menandakan kepemilikan atas suatu perusahaan. Jadi dengan beli saham, kita turut memiliki perusahaan tersebut. Terdengar keren ya?ย ๐Ÿ˜ƒ

Kalau yang lain bisanya cuma makan mie, kamu bisa jadi pemilik Indofood. Kalau yang lain bisanya ngeracunin diri sendiri dan orang lain dengan rokok, kamu bisa beli tuh si Sampoerna. Eh tapi cek dulu ya, karena perusahaan rokok tidak termasuk ke dalam JII (Jakarta Islamic Index) jadi tydac halal sodara-sodara.

Harga saham dihitung per lembar dan satu lot terdiri dari 100 lembar saham.

1 lot = 100 lembar saham

Jadi kalau harga per lembarnya Rp100, maka harga 1 lotnya adalah Rp10.000.

Ih emang ada harga saham yang semurah itu? Yey, banyak tau. Intinya, investasi saham pun bisa dilakukan dengan biaya yang terjangkau.

Harga saham itu fluktuatif dan bisa dipengaruhi oleh berbagai faktor seperti kondisi ekononomi, politik, atau si perusahaan itu sendiri. Sedangkan keuntungan saham bisa didapatkan dengan dua cara yaitu menjual kembali saham yang sudah dibeli (kalau harganya sudah naik tentunya), dan dividenย (laba) yang dibagikan perusahaan.

Mudah dipahami kan?ย ๐Ÿ˜ƒ

Semoga sih mudah dipahami ya. Di part 2 akan saya jelasin gimana caranya mulai nabung saham dan reksadana, karena kalau kepanjangan takut capek ngetiknyaย kalian capek bacanya. Tungguin postingan berikutnya yaa.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *