Berburu Bidan di Bogor dan Daftar Pertanyaan yang diajukan Sebelum Memilih Provider Persalinan

Berburu Bidan di Bogor dan Daftar Pertanyaan yang diajukan Sebelum Memilih Provider Persalinan - ranselriri

Awalnya saya pikir provider lahiran (tenaga kesehatan atau nakes yang akan menangani lahiran) yang pro normal berarti bisa menangani secara gentle birth. Ternyata tidak selalu buibu. Karena meskipun pro normal, ada juga provider yang belum bisa mengakomodasi pasiennya dalam melahirkan nyaman.

Melahirkan nyaman itu seperti apa sih?

Setiap orang pasti punya preferensi masing-masing. Ada juga yang berpikir lahiran itu ya yang penting ibu dan bayinya sehat dan selamat. Tapi kalau kenyamanan itu bisa diusahakan, kenapa nggak?

Sehat itu nggak hanya melulu soal fisik loh, karena ada yang nggak kalah penting yaitu kesehatan mental dan spiritual ibu dan bayi. Melahirkannya sih normal, tapi bagaimana kalau setelah itu si ibu mengalami trauma psikis yang mendalam? Sayangnya, nggak semuanya provider memperhatikan aspek ini.

Source: @bidankita

Pencarian saya akan provider pun dimulai. Di awal kehamilan, bayangan melahirkan versi saya ya di rumah sakit ditangani oleh dokter yang biasa memeriksa saya. Tapi seiring berjalannya waktu dan upaya pemberdayaan diri yang saya lakukan, saya jadi mantap memilih bidan sebagai provider. Apalagi setelah saya tahu kalau peraturan RS itu kaku. Saya nggak bisa bergerak bebas dan nggak bisa bersalin dengan posisi selain berbaring (litotomi). Selain itu dokter nggak selalu ada saat kelahiran (pengalaman lihat dokter saya mantau persalinan pasien lain lewat telepon). Ujung-ujungnya melahirkan sama bidan juga kan 😂.

Nah masalahnya, bidan yang mana?

Bidan terdekat dari Bogor yang bisa menangani gentle birth adalah bidan Erie Marjoko alias bidan Erie Tiawaningrum, yang praktik di Citayam. Tapi suami saya mengusulkan melahirkan di dalam kota Bogor aja.

Hasil jalan-jalan di google, muncullah dua nama yaitu Bidan Sri Doddy yang praktik di Gunung Batu dan Bidan Helena Sundari di Bukit Cimanggu City. Berpedoman pada buku Bebas Takut Hamil dan Melahirkan karya Bidan Yessie, saya pun menyusun birth plan dan melakukan wawancara pada dua provider tersebut untuk benar-benar memantapkan hati.

Sayangnya, saat birth plan diajukan, saat itu yang praktik bukan Bidan Sri Doddy, tapi bidan Fitri. Memang ada sekitar empat bidan yang praktik di Klinik Bidan Sri Doddy. Ini artinya, belum tentu saat melahirkan nanti saya ditangani oleh bidan yang sudah saya PDKT-in dan mengerti birth plan saya.

Apa saja daftar pertanyaannya? Lumayan juga, ada 17 poin 😂 dan ini nggak semuanya saya tanyain dalam satu kali kunjungan. Butuh minimal dua kali kunjungan untuk PDKT dengan provider.

Oh iya, karena saya orang Sunda, jadinya ada percakapan yang menyelipkan bahasa Sunda ya. Saya juga menyelipkan jurnal penelitian, karena birth plan yang saya susun bukan untuk ikut tren, tapi benar-benar berdasarkan ilmiah.

1. Apakah setelah bayi lahir saya bisa melangsungkan IMD (Inisiasi Menyusui Dini)? dan bolehkah saya minta waktu minimal satu jam untuk IMD dengan kondisi bayi baru diukur setelah IMD dilakukan?
Bidan Helena: Boleh Neng.
Bidan Fitri: Di sini paling IMD-nya setengah jam. Nanti bayi dibersihin, diukur, lalu lanjut menyusui di kamar.

IMD ini berpedoman pada rekomendasi WHO:
“Early and uninterrupted skin-to-skin contact between mothers and infants should be facilitated and encouraged as soon as possible after birth.
All mothers should be supported to initiate breastfeeding as soon as possible after birth, within the first hour after delivery.
UNICEF and WHO recommend exclusive breastfeeding for the first six months of life, starting within an hour of birth.”

Manfaat IMD secara lengkap bisa dibaca di Alodokter dan WHO.

2. Bolehkah bayi saya ditunda untuk dipotong tali pusatnya? (Saya minta minimal sejam sampai IMD selesai karena tidak ingin IMD diintrupsi, sesuai rekomendasi WHO)
Bidan Helena: Boleh Neng.
Bidan Fitri: Kalau sejam kelamaan Neng, paling tiga menit sampai nggak berdenyut. Kan ada plasentanya yang nggak dipotong, kalau di sini nggak ikut tren kaya gitu mah.

WHO merekomendasikan untuk menunda pemotongan tali pusat sampai tiga menit.

Manfaatnya sebagai berikut:

“To reduce the risk of postpartum haemorrhage in the mother, WHO recommends clamping the cord following the observation of uterine contraction at around three minutes after birth. …For the infant, there is growing evidence that delayed cord clamping is beneficial and can improve the iron status for up to six months after birth. This may be particularly relevant for infants living in low-resource settings with less access to iron-rich foods.”

Manfaatnya untuk memaksimalkan asupan zat besi pada bayi, bahkan hingga usia bayi enam bulan. Selain itu juga untuk mencegah pendarahan pada ibu. Selengkapnya bisa dibaca di jurnal NCBI dan American Pregnancy.

3. Apakah nanti saya boleh melakukan pose persalinan selain berbaring (litotomi), yaitu seperti jongkok, nonggeng, atau berlutut?
Bidan Helena: Boleh aja kalau Riris nggak pegel mah.
Bidan Fitri: Rada hese (agak susah) nolong kalau posisi nungging. Jongkok boleh aja dicoba, tapi biasanya pasiennya kurang nyaman dan posisi ini agak susah untuk nahan perineum. Tapi nanti kalau mau nyoba dulu boleh, cuma kalau udah nggak kuat paling tidur lagi. Kalau nonggeng biasanya untuk tindakan aja, misalnya bahunya sungsang.

Berburu bidan di Bogor - ranselriri
Pose litotomi. Sumber: Wikipedia

Kenapa saya nggak mau posisi litotomi? Karena posisi ini hanya menguntungkan provider, tapi nggak ada untungnya buat ibu yang melahirkan.

Efek samping dari posisi persalinan berbaring di antaranya memperlambat proses persalinan, meningkatkan risiko episiotomi, meningkatkan risiko penggunaan forcep, dan meningkatkan risiko robek otot anus. Penjelasan lengkapnya bisa dibaca di Alodokter dan Healthline.

Keuntungan posisi melahirkan selain berbaring, bisa dibaca di situs Bidan Kita.

4. Bolehkah saya makan dan minum saat proses pembukaan dan melahirkan?
Bidan Helena: Boleh atuh, malah harus makan biar ada tenaga.
Bidan Fitri: Boleh Neng.

5. Bolehkah bayi saya tidak langsung dimandikan?
Bidan Helena: Iya atuh karena bayi kan belum bisa ngatur suhu sendiri, nanti malah hipotermia.
Bidan Fitri: Iya, paling dilap aja. Tapi kalau tangan dan kaki nggak dilap.

Berburu Bidan di Bogor dan Daftar Pertanyaan yang diajukan Sebelum Memilih Provider Persalinan - ranselriri

Verniks alias lemak yang menempel pada bayi justru bermanfaat sebagai antibakteri dan dapat melindungi bayi. Jadi sebaiknya bayi memang dilap saja, tidak harus langsung dimandikan. Berapa lama bayi ditunda untuk dimandikan? Menunda memandikan selama sehari sudah membuat bayi mendapatkan manfaat ini.

Selengkapnya mengenai manfaat verniks caseosa dari The Asian Parent dan Healthline.

6. Berapa banyak jumlah bidan yang akan membantuk persalinan saya?
Bidan Helena: Dua orang.
Bidan Fitri: Dua, paling banyak tiga orang.

7. Kalau ibu bidan berhalangan hadir, siapa yang akan menggantikan?
Bidan Helena: Insya Allah bisa, karena saya praktik setiap hari.
Bidan Fitri: Di sini banyak tim bidannya.

8. Kalau persalinan saya di siang hari, bolehkah meredupkan lampu agar lebih rileks? Bisakah saya memasang aromaterapi?
Bidan Helena: Nanti sebelum bukaan tujuh kan nunggunya di kamar perawatan, jadi terserah Riris itu mah mau gimana.
Bidan Fitri: (hampir sama jawabannya kayak di atas). Tapi kalau pembukaannya sudah mendekati 10 ya harus langung masuk ruang bersalin.

9. Kalau ruang persalinan penuh, saya akan melahirkan di mana?
Bidan Helena: Dalam satu hari ga akan sampai dua orang yang melahirkan di tempat ibu mah.
Bidan Fitri: Biasanya nggak penuh Neng, nggak kaya di rumah sakit. Tempat tidur juga ada dua kan.

Fyi, tempat tidur di ruang bersalin Bidan Helena ada satu bed aja. Jadi saya nggak perlu denger jeritan ibu lain yang mungkin melahirkan di waktu yang sama dengan saya.

10. Bolehkah suami terus mendampingi selama persalinan?
Bidan Helena: Boleh atuh.
Bidan Fitri: Boleh, tapi maksimal satu orang aja ya yang nemenin.

11. Apakah saya boleh membawa gym ball saat proses bersalin?
Bidan Helena: Boleh, nanti pakainya di ruang perawatan.
Bidan Fitri: Boleh aja neng, tapi nggak boleh di ruang bersalin ya.

Tapi sayangnya, pas saya cek, kamar di Klinik Bidan Sri Doddy ini kecil. Jadi kayaknya agak susah kalau mau bergerak pakai gym ball. Foto kamar perawatannya pernah saya posting di sini

12. Jika persalinan saya sulit, ke mana saya akan dirujuk?
Bidan Helena: Saat ini kerja samanya dengan RS Pasutri. Tapi kalau mau ke Hermina atau RSIA Bunda Suryatni yang lebih dekat juga boleh.
Bidan Fitri: Kerja samanya sama RSIA Bunda Suryartni. Kalau mau ke RSIA Ummi juga boleh.

13. Bagaimana transport ke RS kalau harus dirujuk?
Bidan Helena: Kalau kebetulan ada mobil, bisa pakai mobil ibu. Kalau bawa kendaraan pribadi, pakai punya sendiri. Bisa juga naik Grab.
Bidan Fitri: Paling pakai mobil sendiri, atau nyewa aja (Grab maksudnya). Kalau nunggu ambulans lama soalnya.

14. Apakah kontrol pascapersalinan termasuk ke dalam paket yang dibayarkan?
Bidan Helena: Belum Neng. Suntik HB, terus kalau mau pakai infus juga belum ya.
Bidan Fitri: Udah termasuk satu kali kontrol nifas.

15. Jika memang perineum saya bisa meregang, bolehkan saya meminta tidak ada tindakan medis episiotomi?
Bidan Helena: Boleh aja. Kemarin ada tuh pasien namanya Vivi, bayinya sampai 4 kg, nggak dijahit. Pas hamil rajin pijat perineum, jadi lentur. Kalau nggak perlu digunting ya nggak usah. Kalau robek alami, baru dijahit.
Bidan Fitri: Kalau sobek ya dijahit. Tapi kalau digunting terkandung indikasi. Kalau partus lama, perineum kaku, ya apa boleh buat harus diepisiotomi. Kalau robeknya ke atas atau ke pinggir, ngejahitnya lebih susah, hasilnya bakal kurang bagus.

Berburu Bidan di Bogor dan Daftar Pertanyaan yang diajukan Sebelum Memilih Provider Persalinan - ranselririEpisotomi boleh dilakukan kalau bahu bayi nyangkut di tulang pinggul atau detak jantungnya sudah tidak normal. Kalau kondisi normal sebaiknya JANGAN dilakukan. Kenapa? Karena proses penyembuhannya bisa berlangsung lebih lama dan robekannya lebih parah dari robek alami.

Seluk beluk episiotomi bisa dipelajari di Mayo Clinic dan jurnal NCBI. Baca juga tips untuk mencegah robekan perineum di Alodokter.

16. Jika saya perlu dijahit, apakah menggunakan benang grade bagus?
Bidan Helena: Iya di sini mah karena bidan mandiri pasti pakai benang yang bagus.
Bidan Fitri: (jawaban sama dengan di atas) Kalau jahitannya jelek kan kami juga yang nggak puas.

Masalah benang ini perlu ditanyain ya. Apalagi kalau berencana melahirkan pakai BPJS baik secara normal atapun Caesar. Dari awal langsung aja minta yang PATEN, meskipun harus tambah biaya, asalkan penyembuhannya jadi lebih cepat.

17. Apakah proses persalinan saya boleh didokumentasikan?
Bidan Helena: Boleh, tapi nanti hati-hati ya nyimpen datanya bisi diliat orang.
Bidan Fitri: (Nggak saya tanyain karena susah juga kalau didokumentasikan mengingat kamar perawatannya yang lebih sempit).

Menurut saya, wawancara provider ini perlu untuk memperkirakan bagaimana saya akan ditangani saat persalinan nanti. Tapi kalau nggak mau kelihatan kayak wartawan banget, minimal pastikan aja lima hal ini:

  • Pro ASI.
  • Pro IMD.
  • Pro rooming in jadi nggak dipisah dengan bayi. Baru juga bertemu, jangan sampai langsung dipisah :(.
  • Tidak memaksakan intervensi medis. Biasanya nakes yang nggak sabaran suka main induksi atau SC aja, atau mewajarkan episiotomi.
  • Penundaan pemotongan tali pusat minimal tiga menit.

Jangan takut untuk bertanya pada provider, karena kita berhak tahu setiap detail yang terjadi pada proses persalinan nanti. Ini tubuhmu loh, bukan tubuh orang lain. Kalau nggak sreg, ya cari yang lain.

Setelah baca hasil wawancara di atas, awalnya saya memilih bidan Helena. Alasannya karena beliau lebih fleksibel dan akomodatif terhadap birth plan saya. Ternyata kami tidak berjodoh, akhirnya saya memutuskan melahirkan di Bidan Erie Marjoko di Depok.

(Baca juga: Mengupayakan Gentle birth bersama Bidan Erie Marjoko)

Kenapa saya nggak memilih provider yang satunya lagi? Selain karena belum tentu saat persalinan  nanti saya ditangani oleh bidan yang saya mau dan kurang memahami  gentle birth. Beberapa poin yang membuat saya agak kecewa adalah IMD diinterupsi, ruangan sempit untuk bisa bawa gym ball, sulit untuk melahirkan dengan berbagai gaya, ada pengalaman buruk (sedih sih sebenarnya kalau diinget) saat berhadapan dengan resepsionis di Bidan Sri Doddy. Juteknya itu loh, minta ampuuuuuuuun! Bikin saya males untuk sekedar nanya-nanya dan sampai pada satu titik, bikin saya males balik lagi ke sana.

Sreg dengan provider itu harus demi kenyamanan saat bersalin. Males aja kan kalau nanti saya udah mengaduh kesakitan dan masih harus dijutekin juga :”)).

Semoga tulisan ini bermanfaat bagi para bumil yang masih galau menentukan provider. Kalau ada pertanyaan silakan tinggalkan di kolom komentar ya. Selamat berburu!

 

 

8 thoughts on “Berburu Bidan di Bogor dan Daftar Pertanyaan yang diajukan Sebelum Memilih Provider Persalinan

  1. Waaah.. mantap bgt tulisannya mbak 😍👍
    Aku blm pernah berkunjung ke bidan Helena, tp pernah bersalin di bidan sriedodi. Dan setuju bgt, memang resepsionisnya super jutek. Tp Alhamdulillah saat persalinan sama sekali ga bersinggungan dgn resepsionis. Dr check in jam 22.30 ketemunya sama bidan jaga terus. Dan bersalin jam 08.00 pagi langsung ketemu bidan Heni (adiknya bidan sriedodi. Bidan Heni ini bidan senior juga. Jd disana bidan seniornya ada bidan Heni dan bidan sriedodi sendiri, tergantung jadwal. Tp kita bisa request misal mau bersalin dgn siapa. Krn pengalaman 2 teman saya, mereka request bersalin dgn bidan sriedodi, dan alhamdulillah saat bersalin ditangani langsung dgn bidan sriedodi. Hanya saja bidan sriedodi cenderung masih menggunakan teknik episiotomi, sedangkan bidan heni, pengalaman waktu persalinan saya, tidak melakukan episiotomi alias robek alami.
    Oiya, menambahkan juga untuk bersalin dgn 2 pasien bersamaan. Saat saya, ada juga pasien yg pembukaannya hampir sama, tp kebetulan saya duluan yg pembukaannya lengkap, jd saya didahulukan masuk ruang bersalin. Setengah jam kemudian, setelah anak saya lahir dan ruang bersalin telah dibersihkan, baru pasien di sebelah saya masuk ruang bersalin 😊
    Btw, sudah ada cerita persalinan di bidan Erie kah? Sepertinya bidan Erie cukup ternama juga untuk masalah pro normal maupun VBAC. Ditunggu tulisan2 berikutnya 😊

  2. Terimakasih atas tulisannya. Mencerahkan sekali untuk saya yang sedang mencari provider untuk melahirkan di Bogor, karena selama ini kontrol dan tinggal di Jakarta.
    Boleh tanya kenapa akhirnya tidak memilih di Bidan Helena?

    1. Halo bunda. Terima kasih ya sudah mampir di blog ini. Saya tidak berjodoh dengan bidan Helena karena pada akhirnya saya memilih Bidan Erie Marjoko yang memang praktisi gentle birth. Beliau punya pengetahuan untuk induksi alami seperti menggunakan moksaterapi, acupressure, dan penggunaan minyak aromatik untuk merangsang pembukaan. Semua itu saya dapatkan ketika pembukaan saya tidak maju selama 8 jam. Ulasan mengenai bidan Erie juga sudah saya posting di blog 🙂

Leave a Reply to Ana Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *