Menyusun Birth Plan

Menyusun birth plan - ranselriri

Proses persalinan adalah peristiwa yang sakral dan pengalaman yang tidak akan pernah terlupakan sepanjang hidup saya. Saya menginginkan proses persalinan menjadi sebuah momen indah yang layak untuk dikenang. Oleh karenanya, saya merasa membuat rencana persalinan atau birth plan.

Birth plan ini awalnya saya tuangkan dalam daftar pertanyaan untuk menentukan provider yang paling cocok di hati. Daftar pertanyaan tersebut saya posting di sini. Dalam menyusun birth plan, lagi-lagi saya belajar dari buku saktinya Bidan Yessi, ‘#Bebastakut Hamil dan Melahirkan’.

Tapi kemudian, setelah konsultasi langsung ke Bidan Erie Marjoko, saya disuruh untuk mengoreksi birth plan dengan kalimat yang lebih tegas dan memasukkan afirmasi. Bude Erie cerita, banyak keinginan kliennya yang tercapai dengan birth plan yang jelas.

Misalnya ya kalau mau datang pas pembukaan lima ke provider ya tulis di birth plan.  Kalau mau ketuban utuh ya tulis juga. Saya juga diminta untuk menulis tangan rencana persalinan di kertas, karena saat proses menulis itulah alam bawah sadar saya tersugesti. Oke deh bude 🙂

Birth plan bertujuan agar saya selaku aktor utama, suami, beserta bidan yang akan mendampingi, bisa saling memahami. Birth plan terbagi menjadi kala 1 (proses persalinan), kala 2 (saat persalinan), dan kala 3 (setelah persalinan).

Nama : Riri
Usia : 27 tahun
HPL : 29 April 2019
Goldar : O

Kala I (Proses persalinan)
1. Saya datang ke bidan setelah pembukaan 5 atau ritme 5-1-1 di pagi hari.
2. Adik bayi lahir di minggu ke 38 atau kurang, di hari libur, sehingga ayah bisa mengantarkan ke tempat bidan.
3. Saya tetap aktif bergerak selama persalinan dan dibimbing melakukan pose-pose yang dapat mempercepat pembukaan.
4. Saya makan dan minum selama persalinan. Saya makan puding, es kelapa muda, duren, chatime, sop iga, atau makanan induksi alami lainnya dan makanan yang membuat saya happy.
5. Suami selalu mendampingi selama persalinan.
6. Tidak dilakukan pemecahan ketuban dan membiarkan ketuban pecah secara spontan sampai pembukaan lengkap. Ketuban saya utuh dan jernih.
7. Menyalakan aromaterapi di ruang perawatan atau ruang persalinan.
8. Dilakukan pemijatan selama proses persalinan, terutama pijat oksitosin dan endorphin.
9. Saya melakukan pelvic rocking di birthing ball di dalam ruang perawatan untuk membantu kelancaran pembukaan.
10. Tidak dilakukan induksi. Mengupayakan induksi alami terlebih dahulu.
11. Pemeriksaan vagina (VT) dilakukan hanya ketika benar-benar diperlukan, kalau bisa diminimalkan, dan dilakukan dengan persetujuan saya.
12. Persalinan saya ditangani langsung oleh bidan Erie.
13. Proses persalinan didokumentasikan oleh tim @ayudiac dari @diabirthphoto.

Kala II (Saat persalinan)
1. Saya menggunakan berbagai posisi selama persalinan, seperti jongkok atau nungging.
2. Saya memegang kepala bayi saat crowning.
3. Tidak dilakukan episiotomi. Perineum utuh dan lentur.
4. Dilakukan kompres hangat untuk menahan dan melenturkan perineum oleh tim bidan.
5. Langsung IMD minimal 1 jam segera setelah bayi lahir.
6. Penundaan pemotongan tali pusat sampai IMD selesai, yaitu minimal setelah 1 jam.
7. Tali pusat dipotong oleh suami.
8. Bayi diazani oleh suami.
9. Memakai benang grade terbaik jika memang harus dijahit.
10. Dilakukan pembiusan sebelum dijahit.

Kala III (Setelah persalinan)
1. Pengukuran bayi seperti menimbang dan mengukur panjang bayi dilakukan setelah IMD selesai. Bayi kurang dari 3 kg dan panjang kurang dari 50 cm.
2. Bayi diberi vitamin K dan suntik HB0 setelah IMD selesai.
3. Bayi ditunda dimandikan sampai 24 jam. Bayi hanya dilap, kecuali bagian tangan dan kaki. Setelah itu bayi dipakaikan pakaian, bedong, sarung tangan, dan topi yang saya pilih.
4. Rooming in dengan bayi.
5. Tetap menyusui dan memberikan ASI eksklusif setelah bayi lahir.
6. Jika ASI saya belum keluar, saya ingin dibantu dengan pemijatan.
7. Saat dimandikan, mohon tidak menggunakan sabun, sampo, bedak, atau losion pada bayi.
8. Tidak memakaikan gurita pada bayi.

Saya sangat berharap bidan dapat menginformasikan dengan jelas sebelum melakukan segala tindakan medis kepada saya dan suami. Jika ternyata ditemukan faktor penyulit, saya bersedia dirujuk ke RSIA Bunda Suryatni.
Demikian rencana persalinan kami, semoga Allah memberikan kemudahan dan kelancaran. Atas perhatian dan kesediannya memenuhi permintaan ini, kami ucapkan terima kasih.

Menyetujui,                                          Hormat kami,

(Nama Provider)                                   (Pasien)

Untuk pembahasan kenapa saya meminta IMD satu jam, penundaan pemontongan tali pusar, dan tidak ingin bayi langsung dimandikan, sudah saya bahas di postingan sebelumnya ya.

Selamat mempersiapkan persalinan terindah ❤

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *