Mengupayakan Gentle birth bersama Bidan Erie Marjoko

Di postingan sebelumnya saya bercerita tentang petualangan mencari provider persalinan di Bogor. Setelah membuang rencana melahirkan di rumah sakit, saya mantap memilih bidan sebagai provider persalinan.  Pilihan saya adalah berlabuh pada Bidan Erie Marjoko.


Petualangan pun dimulai dengan mewawancarai beberapa bidan di Bogor. Namun pada akhirnya saya memutuskan melahirkan di Bidan Erie Marjoko yang berlokasi di Citayam Depok.

Nama Bidan Erie Marjoko semakin dikenal setelah beliau menangani persalinan Andien, Sharena Delon, dan Dominique Diyose. Bidan Erie atau Bude Erie, begitu beliau disapa, adalah salah satu pakar dan penggiat gentle birth. Karenanya, tidak perlu menjelaskan panjang lebar soal keinginan saya untuk menunda pemotongan tali pusar, bayi tidak langsung dimandikan, perineum tidak digunting, tidak diinduksi, dan lain sebagainya. Bude Erie justru mengarahkan saya membuat birth plan sedetail mungkin, agar persalinan alami yang saya inginkan bisa tercapai.

Itu pun saya terhitung telat bertemu beliau karena sempat ragu. Masa sih saya harus jauh-jauh melahirkan di Depok? Akses ke sananya gimana? Mama pasti nggak setuju kalau melahirkan di tempat yang jauh, di bidan pula, dan lain sebagainya.

Setelah maju mundur, akhirnya rasa penasaran ini mengalahkan keraguan. Saya pun lekas bikin janji dengan bidan Erie di minggu ke-35 kehamilan. Pada pertemuan pertama itu, saya curhat habis-habisan. Salah satunya soal mama yang nggak setuju saya melahirkan didampingi bidan.

Hari gini melahirkan di bidan? Mama bilang, dia saja melahirkan ketiga anaknya di rumah sakit ditangani oleh dokter kandungan, masa saya mau melahirkan di bidan. Mama makin jantungan pas tahu kalau saya sempat kepikiran home birth didampingi bidan.

Padahal kan ya, zaman dulu pun nenek saya melahirkan mama di rumah. Dulu persalinan dipandang sebagai sesuatu yang alami dan wajar. Tapi sekarang, proses persalinan dianggap sebagai ‘bisnis’ dan harus melibatkan intervensi medis (bahkan yang tidak perlu), sehingga pilihan melahirkan selain di rumah sakit malah dianggap aneh.

Ternyata Bude Erie sudah banyak menangani kasus benturan ibu-anak seperti saya ini. Tapi jalan terbaiknya tetap harus mencoba melunakkan hati mama dan meminta restunya.

Bude Erie bilang, ada pasiennya yang sudah pembukaan lengkap tapi si bayi nggak kunjung lahir. Rupanya si nenek ngambek di ruang tamu karena tahu anaknya memilih melahirkan di rumah dengan bantuan bidan. Tapi setelah si nenek ikhlas, akhirnya bayi pun meluncur dengan gampangnya. Bener-bener deh, jangan sepelein ridho orang tua 🙂.

Saya pun diminta untuk membawa suami dan mama pada konsultasi berikutnya. Suami sih semangat. Tapi untuk mengajak mama, saya belum bernyali.

Untuk melunakkan hatinya, saya mengirimkan artikel-artikel seputar gentle birth. Sambil menjelaskan pelan-pelan alasan saya menolak melahirkan di rumah sakit. Di antaranya saya takut dokter tidak sabaran, dilakukan induksi, perineum digunting, dan banyaknya intervensi medis serta prosedur-prosedur yang tidak perlu.

Nggak berasa sudah satu setengah jam saya konsultasi sama bude Erie. Kalau di RS, mana bisa curhat panjang lebar sama provider gini. Yang ada diingetin suster kalau antrian pasien sudah mengular. 😃

Kalau mau lebih intens konsul dengan beliau, saran saya datanglah di hari Selasa di saat tidak ada jadwal yoga. Sebelumnya bikin janji dulu ya lewat WA di nomor 087878728444. Kalau menghubungi beliau harus sabar yaa, maklum pasiennya banyak, tapi pasti dibalas dengan ramah kok.

Yoga, Hypnobirthing, dan Melahirkan di Klinik Bidan Erie Marjoko

Sejak minggu ke-35, saya memindahkan lokasi prenatal yoga yang asalnya di RS Suryatni menjadi di klinik Bidan Erie. Karena sudah mulai kerja di rumah, saya bisa ikut yoga di hari Rabu, karena kalau hari Sabtu pasiennya lebih ramai.

Yoga di klinik Bidan Erie diadakan rutin setiap Rabu dan Sabtu jam 09.00. Setelah yoga selesai, dilanjutkan dengan pemeriksaan berdasarkan urutan kedatangan. Biayanya Rp150.000 sudah termasuk pemeriksaan.

Yoga dimulai dengan pemanasan, latihan pernapasan, lalu dilanjut gerakan-gerakan untuk membuka panggul dan penurunan kepala bayi, diakhiri dengan relaksasi. Pada sesi relaksasi bude Erie akan memasukkan afirmasi agar bayi lahir secara mudah dan lancar.

Daftar provider prenatal yoga di Bogor dan Depok - ranselriri
Prenatal yoga di Klinik Bidan Erie Marjoko.

Di antara bidan-bidan yang pernah saya jajal (?), bude Erie lah yang cara meriksanya paliiing lembut dan nyaman. Sebelum dicek, bude Erie selalu memberi salam dan menyapa dedek bayi. Saat pemeriksaan panggul pun saya nggak merasa nyeri.

Saya juga sempat ikut hypnobirthing satu kali dengan bude Erie. Saya benar-benar dibikin takjub dengan keajaiban hypno loh. Di kelas hypno itu, ada satu peserta yang dibikin masuk ke dalam alam relaksasi dan tidak merasakan sakit saat ditusuk jarum suntik.

(Baca juga:  Pengalaman Mengikuti Kelas Hypnobirthing)

Klinik bidan Erie sendiri bisa dibilang sangat sederhana, malah terkesan ‘pinggiran’. Habisnya letaknya di seberang kali dan pabrik tahu. Dari stasiun Citayam bisa ditempuh sekitar 10 menit berjalan kaki. Tapi kalau bawa mobil harus hati-hati, karena jalannya cukup sempit dan nggak ada tempat parkir. Meski begitu, tidak menyurutkan para bumil dan pakmil yang datang dari berbagai kota.

Kalau yang pernah lahiran di rumah sakit, apalagi ngambil kelas VIP pasti kaget deh 😀. Tapi karena kesederhanaan ini, justru saya merasa di rumah. Meskipun tidak bisa home birth, saya merasa seperti melahirkan di rumah karena suasananya itu jauh dari kaku atau nakutin kaya di rumah sakit. Walau sederhana, properti untuk memperlancar persalinan mulai dari birthing ball, peanut ball, difusser, aromaterapi, tersedia lengkap.

Jumlah kamar di klinik bidan Erie ada 3, terdiri dari 2 kamar perawatan dan 1 kamar bersalin. Kamar nomor 1 sudah pasti jadi incaran ibu-ibu yang berencana melahirkan di sini. Soalnya kamarnya luas dengan sofa bed besar, AC, dan kamar mandi dalam. Di kamar ini bebas pakai birthing ball atau ditungguin sampai lima orang sekalipun.

Saking pengennya saya melahirkan di kamar nomor 1, saya sampai janjian sama Mbak Tiara yang HPL-nya dekat dengan saya.

“Lahirannya jangan barengan ya, saya mau di kamar nomor 1.”

Hahaha, padahal yang namanya lahiran normal, kan kita nggak tahu kapan gelombang cinta datang.

Ndilalah, ternyata Mbak Tiara berjodoh dengan kamar nomor 1. Sedangkan saya yang masuk beberapa hari kemudian harus ditempatkan di kamar nomor 2, karena ada seorang ibu lain yang masuk dua jam sebelumnya. Ya maklumlah, di sini nggak bisa naik kelas kaya di rumah sakit karena kamarnya terbatas. 😁

Pasien Bidan Erie yang berencana melahirkan di klinik hampir dipastikan mengincar kamar ini.

Nah kamar nomor 2 ini memang jauh lebih sempit dan tidak ada kamar mandi dalam. Karena waktu itu saya didampingi 7 bidan (iyes, 7 bidan), saat pembukaan lengkap akhirnya saya diboyong ke kamar bersalin yang lebih luas.

Nah kalau kamar bersalin di klinik Bidan Erie, rupanya sama dengan kamar bersalin di rumah sakit. Yaitu terdiri dari 1 ranjang standar. Di siang hari, ruangan ini jadi tempat buibu yang kalau yoga sering telat (kaya saya).

Bagaimana pengalaman bersalin di klinik Bidan Erie?
Rencananya akan saya bagikan di tulisan selanjutnya. Tapi intinya, saya merasa telah membuat keputusan yang tepat.

Banyak pasien yang datang ke Bidan Erie setelah divonis dokter harus SC. Entah itu karena panggul sempit lah, mata minus lah, atau sungsang. Setiap konsultasi bude berpesan pada saya, yaitu ketikaa Allah menganugrahi kehamilan, Allah juga pasti sudah menyiapkan jalan keluarnya lewat vagina. Oleh karenanya setiap ibu hamil harus berkeyakinan kalau bisa melahirkan secara normal.

Bahkan waktu di minggu ke-37, waktu dokter bilang bayi saya belum masuk panggul, bude Erie membesarkan hati saya. “Badan kamu kan kecil, jadi biasanya yang badannya kecil itu bayinya baru masuk panggul ketika proses pembukaan. Jadi tenang saja.” Adeeeeem.

Tapi bukan berarti karena merasa yakin jadinya pasrah tanpa usaha.  Bude Erie membekali saya sederetan PR untuk dikerjakan, di antaranya membatasi karbo dan gula, memperbanyak sayur dan buah-buahan, squat, power walk, serta yoga setiap hari. Pokoknya nggak boleh malas-malasan. Selain itu juga harus membekali diri dengan banyak ilmu seputar persalinan. Aktor Utama tetap ibu dan suami, provider hanya berperan sebagai penolong.

Fyi, ketuban saya pecah dini di rumah (KPD) saat tengah malam. Waktu itu saya terbayang harus dirujuk ke rumah sakit. Mengingat tinggi saya yang dibawah 150 cm, berat janin mencapai 3 kg, terdapat tiga lilitan tali pusat, dan masih bukaan 1. Ritme kontraksi sudah 5-1-1, saya dan suami bergegas ke Citayam. Meski banjir ketuban, Alhamdulillah saya tetap tenang.

Tim bidan Erie tetap mengusahakan yang terbaik menggunakan cara-cara alami. Mereka sudah paham bagaimana induksi alami dilakukan. Di antaranya acupressure, moksa terapi, dan penggunaan aromaterapi untuk mempercepat pembukaan. Mbak Ririn, Mbak Simsim, Mbak Novi, dan tim bidan Erie lainnya bergantian memijat dan mengompres panggul saya agar saya nyaman.

VT (Vaginal toucher/pemeriksaan dalam) yang jadi momok bagi banyak ibu juga dilakukan dengan lembut dan nyaman. Nggak ada tuh main colok apalagi sampai bikin trauma. Saya malah senang di-VT karena bisa tahu kemajuan persalinan.

Pokoknya saya dimanja, disayang, diperlakukan dengan lembut, dan terus disemangati. Alhamdulillah, berkat izin Allah saya bisa melahirkan secara normal pervaginam.

Sebelum pulang, saya juga menikmati pijat badan dan payudara yang dilakukan mbak Simsim. Badan jadi lebih segar dan rileks.

Sebelum saya memutuskan lahiran di klinik Bidan Erie, saya pasti survey harga dulu dong. Biaya melahirkan di Bidan Erie Marjoko menurut saya cukup mahal untuk ukuran bidan, namun sebanding dengan pelayanan yang diberikan. Biaya tersebut juga terhitung lebih murah dibandingkan melahirkan di rumah sakit atau sama dengan biaya bersalin kelas III di RS. Bedanya, saya bisa menjalani gentle birth dengan pelayanan plus-plus lainnya . Bidan Erie Marjoko dan tim juga melayani home birth, dengan biaya yang berbeda dibanding bersalin di klinik tentunya.

Sebelum pulang, bude Erie akan memberikan rincian detail mengenai biaya berikut pemakaian obat, serta surat keterangan lahir. Rincian ini bisa digunakan untuk reimburse ke asuransi kesehatan.

Oh iya, saat tulisan ini dibuat, Bidan Erie sedang membangun klinik baru. Mudah-mudahan tempatnya lebih nyaman, kamarnya lebih banyak, dan aksesnya lebih mudah.

Bidan Erie Marjoko - ranselriri

Semoga tulisan ini membantu para ibu yang sedang mencari-cari provider gentle birth. Jika ada pertanyaan atau ingin membagi pengalaman, silakan tinggalkan komentar ya. 😊

 

8 thoughts on “Mengupayakan Gentle birth bersama Bidan Erie Marjoko

  1. Mau nanya mb, biaya melahirkannya itu sudah termasuk pijit2, moksa terapi dan accupressure ga ya? Atau dikenakan biaya tambahan lg utk terapi2 tsb? Makasih banyak ya mb 🙂

    1. Sudah termasuk mbak. Tapi kayaknya sih moksa, acupressure, dll itu tergantung kondisi ya. Kalau pas ke klinik sudah bukaan 8 dan tinggal brojol sih kayaknya ngga perlu ya 😅. Kalau pijat pasca persalinan pasti diberikan sebelum pulang.

  2. salam kenal mbak, saya baru saja tinggal di daerah kabupaten bogor dan sedang mencari provider yg bisa membantu saya melahirkan normal dengam riwayat SC sebelumnya. Apakah saya bisa diskusi dengan mbak via WhatsApp?

  3. Assalamualaikum mbak, sebelumnya salam kenal. Boleh tau ga berapa total biaya melahirkan mbak di Bidan Erie?
    Berkat membaca tulisan mbak saya jd semakin yakin untuk buat janji dengan bidan Erie, sebelumnya masih bingung sekali mau lahir dimana padahal usia kehamilan sudah 34 weeks. Semoga saya jg berjodoh dengan bu bidan seperti mbak. Aamiin

    1. Waalaikumsalam Mbak, salam kenal juga ya. Untuk biaya melahirkan beda-beda tergantung kasusnya, jadi nggak bisa dipikul rata semua. Japri ke email aku yaa untuk lebih jelasnya 🙂

Leave a Reply to Andin Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *