Perjalanan Melahirkan Raka ke Dunia

Sejak hamil, saya bertekad untuk melahirkan normal. Ilmu gentle birth membekali saya sebuah keyakinan bahwa persalinan bisa dilakukan secara alami minim intervensi medis, selama kondisi ibu dan janin dinyatakan sehat.

Saya pun mantap memilih bidan Erie sebagai provider persalinan setelah melalui pertimbangan yang matang. Tulisan ini dibuat karena banyak pertanyaan ke email seputar melahirkan di Bidan Erie Marjoko.

Kalau belum tahu Bidan Erie Marjoko, silakan mampir dulu ke sini buat kenalan.

Minggu ke 37, Masa-masa Dagdigdug

Pastinya udah pada tau dong kalau persalinan normal bisa terjadi di usia kehamilan 37-42 minggu. Kapan pastinya hanya Allah yang tau.

Adapun HPL (Hari Perkiraan Lahir) merupakan hitung-hitungan manusia. HPL bukan Hari Pasti Lahir ya, jadi bisa maju atau mundur.

Kalau belum ada tanda-tanda mules ya selow aja dan justru harus makin rajin yoganya. Saya sendiri sounding ke Raka kalau lahir di minggu ke-39 aja.

Alasan ini karena saya pernah baca penelitian kalau paru-paru bayi baru benar-benar matang di minggu ke-37. Selain itu, anak yang lahir di minggu ke-39 atau lebih ternyata memiliki kemampuan akademik yang lebih tinggi daripada anak yang lahir di minggu ke-37 atau ke-38.

Tapi lagi-lagi saya serahkan pada Allah. Raka pasti akan lahir kalau memang sudah waktunya.

Minggu ke-38

Saatnya induksi alami! Setelah konsul ke Bude Erie, induksi alami sudah boleh dipraktikan di minggu ini.

Apa aja usaha induksi alami? Beberapa di antaranya makan durian, makan nanas, dan HB dengan suami.

Menjelang lahiran, PR saya makin banyak. Sewaktu ikut kelas persiapan lahiran, saya dikasih daftar ceklis yang isinya: squat, power walk, yoga, berenang, minum air putih, makan makanan bergizi. Semuanya agar tubuh saya makin siap dan fit dalam menghadapi persalinan.

Bude Erie nambahin PR saya untuk membatasi gula dan kalori, karena anak saya beratnya tergolong besar. Sedangkan pinggul dan tinggi saya pas-pasan. Takut ga muat 😝.

Jadilah suami nemenin saya power walk atau jadi tandem saat beryoga. Saya juga mengganti nasi dengan kentang dan benar-benar jaga makan. Bagi saya yang ngga pernah diet, berat juga ternyata. Apalagi di trimester ketiga itu nafsu makan ibu hamil lagi menggila.

Minggu ke-39

Minggu, 21 April 2019

Saya benar-benar nggak nyangka kalau persalinan pertama akan diawali dengan pecah ketuban duluan.

Paginya saya dan suami melakukan power walk. Tidak ketinggalan juga makan durian, nanas, kurma dan usaha induksi alami lainnya. Nah, malamnya saya nggak bisa tidur. Pinggul rasanya senat-senut. Setelah direbozo sama suami, kok malah timbul mulas ringan yang rasanya seperti mau haid.

Iseng, saya minta suami mencatat durasi nyeri pakai aplikasi. Setelah diamati selama hampir satu jam, ternyata mulas ringan tersebut sudah membentuk pola 5-1-1. Masih tetap tenang karena yang dirasa masih sebatas mulas-mulas lucu.

Jam 11 malam, saya ke toilet. Saat mau flush, saya melihat ada bercak darah di toilet. diikuti bunyi pyok dan air mengalir dari vagina.

“Yaaaah, kayaknya aku pecah ketuban deh.”

Suami melongo. Saya nyengir. Alhamdulillah ketuban masih jernih.

Saya langsung kontak Bude Erie yang masih seminar di Bandung.

Kontraksi 5-1-1, bloody show, ditambah KPD membuat kami berdua langsung cabut ke Citayam. Saat itu jam 11.30 malam.

Sebelum berangkat, saya nyari-nyari perlak bayi buat jadi alas biar air ketuban nggak kena jok.

“Bu jangan banyak jalan Buuuuu. Itu air ketubannya ke mana-mana,” seru suami.

Saat itu emang air ketuban tuh rasanya weeer weeer aja gitu, sampai ninggalin jejak di lantai. Kalau mobil goyang atau ngelewatin polisi tidur, langsung cuuur ngalir.

Selama perjalanan, saya masih menghitung kontraksi pakai aplikasi. Polanya masih menunjukkan 5-1-1.

“Kira-kira jam segini ada yang jual air kelapa ga ya?”

“Hah buat apa?”

“Inget materi kelas persalinan ngga? Ketuban itu bisa refill dengan banyak minum minuman ion. Salah satunya air kelapa.”

“Ya udah, nanti titip ke mamah.”

Total perjalanan dari rumah sampai ke klinik Bidan Erie kira-kira satu jam. Alhamdulillah karena dini hari, jadi nggak macet. Cuma berhenti lama karena nungguin kereta barang lewat di palang pintu kereta.

Naaah, berhubung selama konsul ke Bidan Erie kami selalu naik kereta, pas tengah malam ke sana naik mobil pribadi jadinya BINGUNG! Cek google map malah makin dibikin bingung. Akhirnya kami minta tukang ojek buat ditunjukkin jalan.

 “Ya ampun Mbak, banjir banget,” kata Mbak Ririn pas saya sampai. Memang saat itu rasanya udah kaya keran bocor. Mbak Ririn pun langsung ambil tongkat pel.

Saya diminta berbaring oleh Bude Icha untuk dicek pembukaan. Ternyata masih pembukaan satu sodara-sodara.

Huhuhu, sedih banget rasanya. Ngarepnya kalau udah 5-1-1 tuh udah pembukaan lima kaya di cerita-cerita orang.

Makin sedih karena kamar nomor 1 udah diisi ibu lain yang ternyata KPD juga. Oleh Bidan Ririn, saya dipersilakan istirahat di komor nomor 2 dan diperintahkan jangan banyak bergerak biar nggak makin bocor.

Saya berbaring miring dan kaki diganjal pakai peanut ball. Lebih nyaman rasanya setelah diganjal. Kalau melahirkan di rumah sakit, belum tentu deh kayaknya punya peanut ball.

Senin, 22 April 2019

Jam 03.00

Ibu-ibu di kamar sebelah menjerit asma Allah, lalu nggak lama kemudian terdengar tangisan bayi. Saya meraba kening, terasa agak demam.

Nggak lama kemudian, suami dipanggil oleh Bude Icha. Ternyata suami disuruh tanda tangan persetujuan. Kalau dalam 8 jam bukaan saya nggak nambah, saya harus setuju dirujuk ke rumah sakit.

Rasanya sediiiih banget. Malam itu saya benar-benar berdoa. Nggak pernah rasanya begitu berharap sama Allah seperti malam itu, supaya proses kelahiran lancar.

Meskipun jauh, Bude Erie tetep kontrol kondisi saya.

Jam 04.00

Saya sama sekali nggak bisa tidur, sambil sesekali melihat jam dinding. Aplikasi masih setia mencatat pola kontraksi yang ternyata sudah muncul 2-3 menit sekali.

Saya juga terus minum air putih supaya air ketuban bisa refill.

Sampai saat ini saya belum ngasih tau mama dan ibu mertua karena takut mereka panik.

06.00

Sudah 7 jam berlalu sejak saya KPD. Ini artinya waktu saya makin sempit.

Bude Icha masuk ke kamar dan menawarkan opsi untuk dirujuk ke dokter Musa, jika pembukaan tidak kunjung maju. Dokter Musa bisa dibilang dokter yang pro normal dan sejalan dengan upaya gentle birth. Karena dokternya spesial, biaya yang harus disiapkan juga spesial.

Tapi tentunya, saya masih berharap bisa melahirkan di Klinik Bidan Erie tanpa harus dirujuk ke mana-mana.

Jam 07.00

Bidan Ririn dan Siem siem masuk untuk melakukan moksaterapi dan acupressure. Keduanya merupakan metode induksi alami agar pembukaan bertambah. Aromaterapi juga dinyalakan dan berhasil membuat saya makin rileks.

Semoga setelah ini pembukaan saya bisa maju.

Jam 08.00

Pembukaan saya maju. Horeee Alhamdulillah menjadi pembukaan tiga setelah diterapi. DJJ juga baik.

Tidak lama kemudian ibu saya datang tergopoh-gopoh. “Kenapa nggak bangunin Mama? Tau-tau mobil nggak ada di garasi.”

Hehehehe, bakal kebayang kan paniknya orangtua kalau tau tengah malam anaknya mulas-mulas mau lahiran.

“Mana bayinya teh?”

Belom lahir Maaaak 😂.

Jam 09.00

Mertua datang bawa air kelapa dua kantong. Mulas makin intens. Rasanya kayaknya ada yang menekan tulang pinggul dan memaksa turun ke bawah.

Jam 12.00

“Kayaknya bakal lahiran dzuhur nih,” kata ibu saya. Nyatanya sampai Ashar pun belum lahir-lahir.

Saya merasa mulaaaas banget, tapi mulasnya beda dengan kontraksi.

“Mules Mbak Ririn.”

“Mulesnya kayak mau BAB gitu?”

“Emang mau BAB kayaknya Mbak.”

Suami saya nemenin ke toilet. Di situ saya beneran BAB ternyata. Akibat makan seblak sehari sebelumnya nih ternyata.

Mau bangkit dari toilet rasanya nggak kuat banget nyerinya, sampai harus bertumpu pada suami. Suami dengan telaten ngebersihin sisa pup.

Saat itu saya ngerasa terharu banget dengan ketulusan suami. Merasa beruntung banget karena suami selalu mendampingi selama persalinan.

Jam 13.00

Kontraksi mulai intens. Saat ini saya mulai merasakan rasa sakit yang teramat nyeri.

Nyeri, tapi ngantuk karena semalaman nggak tidur. Akhirnya di antara kontraksi yang makin dahsyat, saya ketiduran dan sempet-sempetnya mimpi!

Mimpinya belum beres, tapi serasa di tarik kembali ke dunia nyata saat gelombang cinta datang. Rasanya kaya di ambang kenyataan dan khayalan.

Jam 14.00

Gelombang cinta makin terasa nikmat. Bosen posisi miring sambil diganjal peanut ball, saya pun mencoba posisi jongkok, nungging, dan goyang di gym ball. Yang penting dedek makin turun panggul dan bukaan makin lebar.

Bidan-bidan terus mengingatkan praktik hynobirthing yang paling utama alias mengatur napas. Oh iya sejak bukaan tiga, bidan-bidan asisten Bude Erie juga bergantian mengompres belakang pinggul saya untuk meredakan nyeri.

Jam 15.00

Bukaan lima!

Alhamdulillah bukaan semakin maju.

Kali ini Bidan Ririn yang melakukan VT. Semua tim Bidan Erie melakukan VT dengan lembut loh. Sangat nyaman dan nggak bikin trauma. Oh iya, kalau KPD nggak boleh di-VT terlalu sering ya, karena takut mengakibatkan infeksi.

Ajaibnya, ketika dicek air ketuban saya kembali banyak dan malah masih utuh di sisi kiri. Ternyata yang semalam itu rembes, tapi memang banyak banget.

Berkali-kali saya memanjatkan syukur pada Allah.

Jam 16.00

Suami menuntun power walk dan main gym ball lagi. Sementara Bidan Siem-siem ngompres panggul saya. Beberapa kali saya luluh lantak ke lantai, karena nggak tahan dengan sensasi gelombang cinta.

Jam 17.00

Memasuki masa-masa halu.

Gelombang cinta makin terasa nikmat. Saya merasa ada sesuatu yang keras dan berusaha lolos dari tulang panggul saya. Rasanya ngilu-ngilu sedap. Beberapa kali bilang ke suami kalau saya udah nggak sanggup, tapi suami tetap menyemangati.

Tiba-tiba di dalam otak saya seperti diputar kenangan masa kecil, kesalahan-kesalahan yang saya perbuat, dan dosa-dosa sama orangtua.

Ternyata melahirkan tuh kayak gini ya. Makanya surga bisa ada di telapak kaki ibu.

Saat itu saya langsung sujud di depan mama dan menanyakan keikhlasannya. Saya juga nge-WA papa dan minta maaf kalau selama ini jadi anak yang nggak bener.

Benar-benar momen terpasrah dan terikhlas dalam hidup saya.

Pada momen kritis ini saya merasakan rasa sakit paling hebat selama hidup saya.

18.00

Bidan Ririn datang bawa sate kambing! Hahahaha.

Tadi pagi dan siang juga dibawain makanan, tapi cuma saya makan dikit. Selebihnya saya minum air kelapa, makan banyak kurma, dan puding kesukaan yang dibawa dari rumah.

Padahal kalau diingat-ingat, makanan yang disajikan di klinik enak, ditambah jus segala. Sama sekali nggak kaya menu untuk orang sakit.

Di antara gelombang cinta yang makin intens dan nggak karuan, saya sempetin deh tuh ngunyah sate kambing dan jus alpukat.

Bidan Ririn bilang, “Ayo makan yang banyak, bentar lagi Bude Erie datang. Sate kambing itu induksi alami loh.”

Tapi akhirnya itu sate kambing dihabisin sama ibu saya.

Jam 19.00

Kok ya belum lahir juga? Saya meringis dalam hati.

Jujur saya sudah mulai kewalahan. Keringat membanjiri tubuh dan tiba-tiba ada desakan yang muncul dari dalam perut dan naik ke tonggorokan.

“Hueeeeeek.”

Keluar juga sate kambing dan teman-temannya. Bidan Novi dan yang lainnya langsung membantu saya berganti baju dan membersihkan sisa muntahan.

Ternyata muntah menjelang lahiran itu wajar. Banyak juga ibu-ibu lain yang ngalamin.

Pada Bidan Ririn, saya langsung minta dipasangkan aromaterapi untuk meredakan mual.

Jam 20.00

Pengen pipis tapi nggak bisa pipis. Kata Bude Icha karena kepala bayi semakin ke bawah dan menghalangi kandung kemih.

Akhirnya ditawarin kateter supaya bisa pipis. Perih juga ternyata.

Jam 21.00

Masih lama nggak mbak?

“Bagus kok, dedeknya makin turun.” Jawab Mbak Ririn. “Tarik napas, semakin kuat gelombang cinta, semakin dekat ketemu dedeknya.”

Jam 22.00

Bukaan delapan!

Bidan Lina datang untuk VT.

“Sakedap deui ieu mah,” kata Bidan Lina yang memang orang Sunda. Satu-satunya yang orang Sunda di tim Bidan Erie kayaknya.

Nggak lama kemudian Bude Erie datang dan langsung periksa DJJ.

Jam 23.00

Bukaan lengkap!

“Kita pindah aja yuk ke ruang bersalin,” ajak Bude Erie.

Anehnya saya ngerasa gelombang cinta nggak sedahsyat sebelumnya. Jadinya saya santai aja gitu, jalan dari kamar ke ruang bersalin.

Jam 23.30 

Saya dikelilingi enam bidan penolong persalinan, suami, ibu, serta tante. Full team! Ramai banget kalau diinget-inget.

“Semangat sayang, kepalanya udah kelihatan.”

Wah, makin semangat dong saya pas suami bilang gitu. Sesuai birth plan, saya boleh memegang kepala Raka yang dalam posisi crowning.

(Baca juga: Menyusun Birth Plan)

Menyentuh kepala anak saya masih berada di jalan lahir, rasanya nggak bisa digambarkan dengan kata-kata. Bude Erie juga memotret kepala Raka lalu diperlihatkan pada saya.

Oksitoksin membuncah.

Saat gelombang cinta datang, saya makin semangat untuk mengejan. Sayangnya usaha belum cukup kuat. Bidan Lina kemudian nyodorin teh manis biar saya bisa isi tenaga.

Pukul 23.50 Raka belum juga keluar.

“Dek, mau lahirnya hari Senin atau Selasa nih?” ujar saya dalam hati. Dalam beberapa menit lagi, hari memang akan berganti.

“Ayo bisa, ini tinggal sedikit lagi loh,” Bude Eri menyemangati.

Mungkin sudah lima kali usaha mengejan, tapi tidak cukup kuat untuk membawa Raka ke dunia.

Akhirnya ketika gelombang cinta datang lagi, saya menggenggam erat tangan suami lalu mengejan dalam satu napas panjang.

Selasa, 23 April 2019 

Pukul 00.02 Raka lahir ke dunia.

Berat 3 kg dan panjang 51 cm.

“Oalah pantes lama, ada lilitan ternyata. Satu, dua, tiga,” kata Bude Erie sambil mengangkat Raka.

Ternyata yang membuatnya lama turun panggul adalah karena ada tiga lilitan tali pusat yang mengelilingi badan dan leher. Waktu terakhir USG sih memang ada satu lilitan. Tapi saya nggak menyangka kalau sampai ada tiga. Kalau ketahuan sama dokter yang nggak pro normal, mungkin udah langsung vonis SC.

Raka menangis sebentar, lalu langsung diletakkan di dada saya untuk IMD (Inisiasi Menyusu Dini).

“Assalamualaikum, halo Nak.”

Kamu yang selama ini ibu bawa-bawa naik KRL, yoga, nemenin ibu kerja, akhirnya ibu bisa melihat wajahmu Nak.

Saya meraba telinganya. Berlekuk, ini telinga saya, turunan dari papa.

Ternyata usaha mengejan yang terakhir membuahkan robek yang dihadiahi dua jahitan. Gagal deh punya perineum utuh. Hehehe, tapi tetap bersyukur karena drama KPD berakhir happy ending.

“Wajar lah, anaknya gede gitu, ibunya kecil,” kata Bude Erie sambil geleng-geleng kepala.

Tidak lama kemudian saya pun melahirkan plasenta. Lalu luka perineum dijahit oleh Bidan Siem-Siem dan Bidan Lina. Rasanya? Nggak berasa apa-apa, karena saya sibuk bahagia.

Tidak juga trauma saat dijahit seperti yang banyak digemborkan orang. Luka baru berasa perih ketika saya pipis untuk pertama kali setelah lahiran. Tapi beberapa jam kemudian saya juga sudah kuat jalan sendiri ke kamar mandi.

Oh iya, tali pusat tidak langsung dipotong ya. Sesuai panduan WHO, menunda pemotongan tali pusat bermanfaat banyak untuk bayi. Awalnya tali pusat baru akan dipotong setelah IMD selesai, tapi kemudian ditunda sampai pagi.

IMD ini sangat penting ya karena dapat mempercepat pemulihan ibu, meningkatkan kesuksesan menyusui karena dapat merangsang ASI, dan sangat baik untuk daya tahan tubuh bayi.

Saya puas IMD selama dua jam lebih. Puas mencium kepalanya dan menyentuh kulitnya yang masih dibalut verniks dan lanugo halus.

Selanjutnya kami berpisah sebentar. Raka dibawa sebentar untuk diukur dan disuntik vitamin K. Setelah dilap sedikit, Raka langsung dikembalikan pada saya.

Bisa IMD lebih dari satu jam, perineum tidak diepisiotomi, tidak diinduksi, penundaan tali pusat, melalui persalinan secara sadar, adalah cita-cita saya sejak merencanakan persalinan. Ini pula yang menjadi alasan saya memilih melahirkan di Bidan Erie Marjoko.

Raka menatap saya dengan mata kecilnya. Setelahnya dia tertidur pulas.

Tepat tengah malam itu, seorang perempuan telah lahir menjadi ibu. Seorang laki-laki kini menyandang tanggung jawab sebagai ayah.

ASI Belum Keluar? Wajar Kok

Keesokan paginya saya diajarkan pelekatan yang baik untuk menyusui. Ketika dipencet ASI saya belum keluar ya. Tapi saya nggak khawatir karena sudah berbekal ilmu dari kelas menyusui bersama AIMI.

ASI yang nggak langsung keluar itu wajar. ASI baru keluar di hari ketiga itu juga wajar, karena bayi memiliki cadangan makanan sampai tiga hari. Payudara yang dipencet nggak mancur itu bukan berarti ASI sedikit. Pikiran seperti ini harus dienyahkan dari bumi.

Bentuk puting kecil, datar, atau mendelep juga nggak ngefek-ngefek amat karena bayi bukan menyusu di puting, tapi areola.

Kelahiran itu sepaket dengan ASI. Justru manusialah yang acapkali mengintervensi proses alami ini.

Caranya ya dengan tidak memberikan kesempatan IMD, memisahkan ibu dan bayi setelah dilahirkan, atau memberikan sufor dengan dot ketika ASI ibu belum keluar di hari pertama.

Kalau ASI belum keluar ya kuncinya susui terus, tempelin terus, karena hanya hisapan yang dapat merangsang produksi ASI. Inilah pentingnya memilih provider lahiran yang pro ASI.

Selama perawatan di klinik, saya diajarkan cara memandikan bayi, merawat tali pusat, dan diberi pijatan pascabersalin. Bude Erie juga memberikan bingkisan kecil-kecilan untuk kami. Bukan bingkisan sufor kayak hadiah dari rumah sakit ya, hehehe.

Kalau ditanya apakah saya trauma? Alhamdulillah nggak. Saya memang mengingatnya sebagai rasa sakit panjang yang belum pernah saya rasakan sebelumnya. Tapi setelahnya, ya seperti kata orang-orang, terbayar ketika Si Kecil lahir ke dunia.

Luka jahitan pulih total, nggak berasa sama sekali. Hal ini karena robek alami dan tidak diepsiotomi. Luka yang timbul akibat robek alami memang lebih cepat pulih karena jaringan d punya waktu untuk merenggang alami.

Apakah saya mau melaluinya lagi? Ya, mau karena seru. Mau, asalkan tetap dengan gentle birth.

5 thoughts on “Perjalanan Melahirkan Raka ke Dunia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *