Berlindung di Balik Tameng ‘Ibu Baru’

Tulisan ini adalah semacam self talk untuk diri saya sendiri. Jadi sebaiknya tidak merasa butthurt, karena tujuannya memang menyentil diri saya sendiri dan kalau bisa ibu-ibu lain yang membacanya. #Eh gimana?


Semua berawal dari seringnya saya menemukan kalimat pembenaran ‘ibu baru’.

Si ibu baru, yang memang sebenarnya baru jadi ibu, dan merasa kurang punya ilmu kerap menuliskan, “Hehehe, maklum Bun, saya baru tau. Namanya juga ibu baru.”
Ada yang salah?

Nggak ada yang salah sebenarnya. Tapi kalau dilakukan berkali-kali di forum yang sama, dengan pertanyaan yang itu-itu saja, alias jawabannya sudah ada di mana-mana (alias tinggal scroll atau tinggal googling), ya apalagi namanya kalau bukan pembenaran?

Jadi ceritanya, sejak saya akan debut sebagai ibu baru (aka masih hamil), saya banyak gabung di grup WhatsApp maupun grup di media sosial. Mulai dari grup lahiran, komunitas menggendong, Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia (AIMI), dan ikut kelasnya.

Intinya, saya berupaya mencari ilmu sebanyak-banyaknya. Anak kan amanah, dan merawat serta membesarkannya perlu ilmu dong.

Apalagi jadi orang tua itu nggak ada sekolahnya. Alhamdulillah sekarang banyak kelas atau kursusnya. Walaupun setelah saya sadari sekarang, ilmu-ilmu tersebut bisa diakses gratis di grup-grup media sosial.

Ikut kelas juga banyak manfaatnya karena kita bisa tatap muka langsung dengan ahlinya. Apalagi kalau ikut kelasnya mengajak pasangan dan orang tua,  bisa jadi sama-sama tercerahkan. Manfaatnya bisa meminimalkan perbedaan pandangan dalam cara membesarkan anak.

Oke deh, balik lagi ke topik ibu baru.

Ya namanya juga ibu baru. Pertanyaan yang ditanyakan ya seputar pengalaman ibu baru dengan bayi piyik. Biasanya nggak jauh dari ASI, berat badan anak, dan keluhan lainnya.

Lalu di mana masalahnya?

Masalahnya adalah terlalu banyak ibu-ibu yang melemparkan pertanyaan tanpa melakukan riset kecil-kecilan. Nggak usah lah scroll-scroll postingan ibu-ibu lain atau membuka file grup (hampir semua permasalahan seputar ibu baru terjawab di file grup sebenarnya), yang kaya gini sih jarang banget!

Riset kecil-kecilan yang saya maksud adalah: ya GOOGLING dong ah!

Situ kan punya smart phone. Entah belinya lunas atau cicilan, selama masih bisa buka facebook, artinya kan bisa googling juga. Ya dipake dooong buat cari ilmu.

Kan sekarang ada tuh situs kesehatan kayak Alodokter yang informasi medisnya tepercaya dan berasal dari jurnal-jurnal ilmiah (bukan bermaksud promosi). Tapi ya at least, coba googling dulu.

Kalau di antara buibu ada yang bergabung dengan grup AIMI di Facebook, mungkin cukup sering melihat saya membalas pertanyaan ibu-ibu. Dari yang awalnya saya merangkai kalimat sendiri, sampai akhirnya saya bantuin copas jawaban admin.

Soalnya jawabannya ya pasti itu-itu saja, karena pertanyaan yang ditanyakan sudah berulang kali ditanyakan. Sudah dikasih tautan pada file pun, kebanyakan ‘ibu baru’ itu masih bertanya pertanyaan teknis, bukannya langsung mengklik tautan yang diberikan.

Fyi, bagi yang belum mudeng. Grup skala nasional seperti AIMI dan Indonesian Babywearing itu punya kumpulan file-file yang bisa diakses gratis oleh para membernya (tergantung apakah si member benar-benar niat belajar atau nggak). File-file tersebut bersumber dari jurnal kesehatan, dokter, dan praktisi kesehatan, yang dikemas menjadi lebih ringkas sehingga mudah dicerna.

Tinggal baca dan gratiiiis! Tidak usah ikut kelas menyusui atau kelas menggendong yang bayarnya raturan ribu. Materinya sama, ilmunya sama.

Tapi ya dasarnya orang Indonesia, maunya disuapiiiin mulu. Sudah disuapin, eh darurat membaca. Sedih akutu.

Kalau dibilang, “Bu, itu kan sudah saya sertakan linknya di atas. Coba dibaca dulu. Itu juga saya sudah kasih link video Youtube cara pakai cup feeder, coba ditonton dulu,” kata saya sambil ngelus dada. Ceritanya Si Ibu rada nggak percaya kalau bayi dua bulan bisa minum ASIP dari cup feeder tanpa dot.

Jawaban si Ibu ya nggak jauh dari, “Hehehe, iya Bun. Namanya juga ibu baru.”
Setelah iseng klik profil picture-nya, ternyata anaknya sudah dua.

Ibu baru dari mana Maemunaaah? *nangis di pojokan*

Ibu baru apalagi ibu lama, mestinya ya nggak berhenti belajar. Ilmu itu semakin berkembang dan akses terhadap ilmu itu terbuka lebar.

Jangan sampai timbul penyesalan-penyesalan umum seperti:
“Anak saya rewel terus, kirain kurang ASI-nya. Jadi saya kasih sufor.” Padahal bukan karena ASI-nya kurang, tapi ternyata anaknya lagi fase growth spurt.

“Anak saya dikasih sufor karena payudara saya lembek, kalau dipencet cuma setetes.” Ya kalau ngocor deras mah namanya keran atuuuh. Jangankan dipencet, ASI yang dipompa sedikit aja belum tentu ASI-nya dikit. Payudara lembek juga belum tentu ASI sedikit.

“ASI-nya dikit jadi sambung sufor.” Padahal ASI-nya cukup karena berat anaknya naik sesuai KMS dan pipis minimal 6x sehari. Ibunya aja yang mikir ASI dikit karena kurang ilmu. Akhirnya ASI-nya beneran dikit deh karena udah kalah sama sufor.

Atau yang paling parah dan lumayan sering terjadi… MPASI DINI!

Bahaya memberikan pisang untuk bayi
Miris!

Punya HP kan? Ada kuota kan? Coba itu HP-nya jangan cuma dipakai buat selfie atau fotoin anaknya mulu (yang kemudian di post ke Instagram setiap jam dan bikin spam), tapi pakai untuk cari ilmu. *maaf ngegas*

Semua ada ilmunya Bu. Tinggal kita yang mau mencari atau nggak.

Saya sering banget dapat pertanyaan di grup AIMI, “Cup feeder itu yang kaya gimana sih?” sampai-sampai saya simpan gambarnya di HP, biar kalau ada yang tanya langsung saya kasih lihat.

Niat saya benar-benar ingin membantu ibu-ibu biar terhindar dari bingung puting dan akhirnya percaya diri meninggalkan dot. Niat saya benar-benar ingin berbagi ilmu karena Allah.

Tapi karena sering banget dapat pertanyaan seputar bentuk cup feeder, saya jadi bertanya-tanya pada diri sendiri, “Ini ibu-ibu apa ga ada sama sekali niat googling apa ya?”

Tanya kenapa.

Eniwei, tugas mencari ilmu ini bukan cuma urusan ibu-ibu ya. Bapak-bapak juga harus pinter.

Biasanya nih ya, bapak-bapak yang misqueen ilmu, kerjaannya cuma bisa nyalahin istri aja. Anak kurus, nyalahin istri. Anak rewel, nyalahin istri.

Anak sakit karena nggak imunisasi, istri lagi yang disalahin. Eh ternyata istrinya kaum antivax. Kalau yang ini gapapa pak, salahin aja istrinya. Kalau perlu ceramahin pake jurnal ilmiah.

Giliran anaknya sehat, pinter, lucu, eh bapaknya yang minta dipuji.
“Pinternya anak Papa. Siapa dulu dong Papanya?” padahal ikut ngurus juga nggak, tapi ngaku-ngaku. Ih!

Sounds familiar?

Jangan sampai suami diem aja kalau bayinya dikasih pisang ambon padahal umurnya baru lima hari. Jangan sampai suami juga jadi rugi secara emosional dan finansial karena istri dan diri sendiri kurang ilmu.

Dan jangan sampai, ikut-ikutan pakai tameng yang sama ya.
“Hehehe, maaf Bun. Namanya juga Bapak baru.” 😊

Heeem, ingin ku-sleding rasanya.

Nih saya kutipin pesan moral dari AIMI:
“Yang masih hamil, manfaatkan 9 bulan kehamilan untuk BELAJAR. Ikuti kelas persiapan menyusui. Belajar tentang ASI, menyusui, dan dasar-dasar parenting. Kunjungi toko buku. Lengkapi daftar belanjaan perlengkapan bayi Anda dengan buku-buku mengenai kesehatan dan perawatan anak.

Temui konselor menyusui, dengan dokter atau bidan yang pro ASI dan memiliki keterampilanKarena percayalah, saat bayi sudah di tangan, tak akan ada banyak waktu untuk belajar.

Yang merasa belum siap lahir, batin dan ilmu untuk punya anak, rencanakan kehamilan dengan sebaik baiknya. Menikah itu tidaklah satu paket dengan punya anak. Punya anak membutuhkan kesiapan yang jauh lebih besar karena akan ada manusia kecil tidak berdaya yang kehidupan dan kesehatannya tergantung pada pengetahuan dan kebijaksaan kita.

Cari dukungan untuk banyak belajar. Karena tanpa pengetahuan dan dukungan, akan berakhir dengan penyesalan.”

Gimana, udah merasa tertohok belum?

 

 

3 thoughts on “Berlindung di Balik Tameng ‘Ibu Baru’

  1. “udah merasa tertohok belum?”

    Sudah bangeet, seharusnya dengan julukan “ibu baru” di masa sekarang ini bkn jadi alesan lagi buat pura -pura ga tau, lagipula nyari ilmu soal mengurus anak ngga kaya “ibu baru” zaman dulu yang mesti jauh – jauh ketemu bu bidan atau ke posyandu, semua informasi bisa kita dapat lewat HP.

    Semangat jadi Ibu !

  2. Di era teknologi informasi seperti ini, udah ga ada alasan lagi untuk ga belajar. Banyak cara dan media untuk belajar, akhirnya tinggal kemauan kedua orang tua untuk belajar.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *