Hikmah di Balik Pandemi Corona

Ada rasa bersalah pada diri sendiri karena selama tiga bulan Work from Home (WFH) dan #diRumahAja, saya sama sekali nggak menyempatkan diri untuk update blog.

Bayangan saya di rumah aja = Banyak waktu luang = Bisa me time.

Padahal kenyataannya mah boro-boro. 😭

Saya struggling antara ngerjain pekerjaan kantor, pekerjaan freelance, nyiapin makan anak, mandiin anak, nyuci clodi, nenenin, ngasuh, masak, dan seabgreg kegiatan lainnya. Baru juga pagi, eh tau-tau udah sore lagi. Gitu aja terus. 😂

Niatnya ngerjain pekerjaan kantor pas anak tidur, tapi kok anaknya ngga tidur-tidur. Akhirnya pas anak tidur, saya pun ikut tidur karena kecapekan.

Sungguh saya salut pada ibu rumah tangga yang bisa meng-handle semuanya!

Imbas dari keteteran ini, saya udah nggak mompa ASI sebulan. Untungnya anak saya lancar DBF karena tidak ada dot di antara kita, jadinya nggak bergantung pada stok ASI.

Saya terakhir ke kantor itu bulan Febuari. Ambil cuti dua minggu untuk traveling sama anak. Ternyata sepulang traveling saya dan anak sakit. Sakitnya juga bukan yang remeh, karena saya didiagnosis sinus grade penuh dan bronkitis yang mengarah ke pneumonia. Bayangin aja, saya bronkitis di saat Corona mulai merebak! Mana baru balik dari Eropa.

Untungnya saya positif bronkitis tapi bukan karena si virus C. Murni karena saya bengek karena udara dingin, kecapean, dan kurang istirahat. Ditambah selama di Eropa saya sering banget kehujanan.

Kalau bukan karena Corona, saya mungkin harus masuk ke kantor meski masih pemulihan. Namun pada saat itu Indonesia mengonfirmasi dua orang pasien positif COVID-19, hal ini membuat kantor saya mengeluarkan kebijakan. Setiap karyawan yang baru pulang dari luar negeri manapun itu, diharuskan menjalani isolasi mandiri selama 14 hari di rumah. Tidak lama setelah itu, kantor saya pun mulai memberlakukan WFH.

Flashback sedikit, waktu awal tahun 2020, saya bener-bener ngerasa capeeeeeek banget kerja. Ditambah waktu itu load kerja sedang banyak-banyaknya, pengasuh anak mau resign, dan ribetnya ngurusin berbagai dokumen ke Eropa (bolak-balik notaris, bank, VFS). Belum lagi bolak-balik Bogor-Jakarta setiap hari.

Kombinasi dari semua hal tersebut membuat saya puyeng dan akhirnya STRES.

Stres ini fatal sekaliii buat ibu menyusui. Bisa ditebak, hasil pumping saya pun turun drastis. Saya sampai nangis waktu pumping subuh-subuh sebelum kerja, karena ASI saya sama sekali nggak keluar!

Akhirnya saya pun ikhtiar untuk konsultasi dengan konselor menyusui. Alhamdulillah setelah treatment, hasil pumping berangsur-angsur kembali ke sedia kala. Dalam perjalanan sepulang dari konselor, saya termenung.

“Apa bakal gini terus ya hidup gue? Kok kayaknya ngga ada jeda untuk bernapas sejenak. Apa selama bekerja gue bakal cuma punya waktu di malam hari untuk ketemu anak? Apa cuma Jumat dan Sabtu aja waktu yang gue punya untuk selonjoran?”

Dilema ibu bekerja ya Mak! *raise your hand if you feel the same* 😂

Dan kemudian, pandemi pun terjadi…

Dan blar! Seminggu pertama #diRumahAja, saya sempet stres karena harus mengurus anak sendiri. Si Mbak akhirnya beneran resign karena mau kawin, suami masih kerja seperti biasa, orangtua menetap di luar provinsi.

Saya hanya berdua sama anak.

Saya seperti mengalami baby blues dan saat itu bener-bener ngga ada yang bisa dimintain tolong, karena posisinya saya masih harus isolasi mandiri. Tapi seiring berjalannya waktu, saya mulai mendapatkan ritme sebagai ibu rumah tangga.

Kalau bukan karena pandemi Corona ini, saya mungkin melewatkan momen-momen di mana anak tumbuh gigi dan bisa jalan. Karena selalu berada di rumah, saya juga jadi ngga perlu ribet nyuci alat pumping. Setiap anak mau menyusu tinggal sodorin aja gentongnya. Praktis!

Selain itu, masih banyak lagi hal-hal yang saya syukuri. Mari kita list satu persatu:

Makin mahir masak

Kombinasi dari ngiler akibat nonton acara Bikin Laper Trans TV, ditambah ingin makan enak tapi hemat, bikin saya mau ga mau mengulik berbagai resep masakan. Selama #diRumahAja saya bikin:

  • Cumi saos padang.
  • Udang saos mentega.
  • Nasi hainan.
  • Nasi biryani.
  • Mie tek-tek seafood.
  • Tteobboki.
  • Sup rumput laut ala resto Jepang.
  • Dan berbagai masakan eksperimental lainnya.

Bisa tidur siang

Bobo siang sambil kelonan sama anak adalah hal mewah bagi ibu bekerja. Betul apa betul? 😏

WHF (Work from Home)

Yes! Kapan lagi dapat keistimewaan kerja dari rumah, sambil tetap ngasuh anak, dan dapat gaji bulanan (plus asuransi, THR, serta benefit lainnya). Beruntungnya, kantor tempat saya bekerja tidak terkena imbas Corona.

Nggak harus berangkat subuh-subuh

Saya biasa berangkat ke Jakarta jam 4 subuh, agar bisa tiba di kantor jam 6 pagi dan pulang jam 3 sore (kantor saya memang sejak dulu memberlakukan jam kerja fleksibel). Selama WFH, ritme hidup saya melambat dan nggak seperti dikejar-kejar setoran.

Punya lebih banyak waktu untuk keluarga

Selama pandemi Corona, banyak pasangan yang harus LDR karena aturan PSBB. Tapi gara-gara Corona, saya jadi punya lebih banyak waktu sama suami, karena suami juga WFH. Efeknya anak jadi lebih ceria karena ada teman main. Saya juga jadi punya bala bantuan untuk mencuci clodi. Hore!

Lebih hemat

Di hari biasa, saya bisa menghabiskan minimal Rp30.000 untuk ongkos ke kantor. Karena nggak ngantor, makan siang di rumah, dan jarang jajan, saya lumayan bisa berhemat banyak. Lumayan kan uangnya bisa ditabung untuk DP rumah.

Stok ASIP aman

Saya yang awalnya  harus kejar-kejaran stok ASI di bulan Januari, sekarang lebih tenang karena bisa bikin stok ASIP baru. Malah bisa bolos pumping (tanpa rasa berdosa) karena anak full DBF.

Bisa buka puasa di rumah

Ini juga sebuah kemewahan! Sejak pertama kali kerja (sebagai wartawan), saya jarang sekali buka puasa di rumah. Malah bisa dibilang lebih sering tarawih di kantor daripada buka puasa di rumah. Resign dari wartawan, saya pindah ke perusahan finansial. Kantor kedua ini membuat saya kebih sering buka puasa di stasiun Manggarai.

Barulah di kantor ketiga, saya bisa merasakan bukan puasa di rumah, asalkan habis sahur langsung berangkat. Akhirnya baru tahun ini saya bisa mengalami buka puasa di rumah, sebulan penuh, tanpa acara berangkat subuh-subuh.

Sebelumnya saya malah nggak pernah membayangkan kemewahan ini bakal saya alami loh. Setidaknya selama saya masih berstatus ibu bekerja yang PP Bogor-Jakarta.

Bisa menjalani bulan Ramadan dengan lebih damai

Bisa buka puasa di rumah bersama keluarga dan tarawih setiap malam dalam keadaan segar (meski ngga ke masjid), benar-benar jadi hal yang saya syukuri tahun ini. Karena #diRumahAja, saya merasa lebih bisa memanfaatkan momen Ramadan dengan lebih santai, damai, dan bisa memanfaatkan setiap menitnya untuk lebih mendekatkan diri pada Allah.

Entah ada kaitannya atau ngga, tapi semenjak Corona, ada lebih banyak burung-burung yang mampir ke halaman rumah saya. Mungkin karena udara di bumi yang lebih bersih, hewan-hewan juga ikut senang. Seperti layaknya manusia yang ingin rehat sejenak, mungkin bumi juga seperti itu.

Di balik musibah pasti ada hikmahnya. Namun hikmah tersebut datang bersama perubahan besar yang terjadi pada hidup kita. Diri ini masih akan harus akrab dengan masker, mencuci tangan lebih sering dari biasanya, hand sanitizer, dan social distancing, selama virus Corona belum benar-benar lenyap.

Entah kapan kita bisa bebas berjabat tangan lagi, berkumpul, beribadah di masjid, nonton konser, nonton bioskop, dan desek-desekan tanpa takut si COVID-19. Kebebasan terbelenggu dan rasanya seperti ditawan oleh musuh yang tak kasat mata.

Sedih ya ☹, tapi kita nggak boleh berputus harapan.

Yuk tetap jaga diri dan berdoa semoga anggota keluarga kita dihindarkan dari COVID-19. Semoga Allah segera menghilangkan virus jahat ini dari bumi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *